INFOKINI.ID, GOWA – PT Lontara Jaya Nusantara (PT LJN), UMKM asal Kabupaten Gowa menjuarai kompetisi yang diselenggarakan oleh Kementerian Perindustrian untuk program Pinoti. PT Lontara Jaya Mandiri menyabet juara II.
Pinoti sendiri adalah program yang dikembangkan oleh BSKJI Kementerian Perindustrian untuk menumbuhkan dan memperkuat kemampuan Industri Kecil dan Menengah (IKM) melalui optimalisasi teknologi.
Melalui “tiket” juara tersebut, PT LJN berhak didampingi Kementerian Perindustrian dalam program pinoti. Owner PT Lontara Jaya Nusantara, Hj Ariyani, mengatakan, value produk yang dihasilkan dan kaitannya dengan rekayasa dan optimalisasi teknologi tepat guna.
“Kita lakukan rekayasa teknologi tepat guna untuk peningkatan produktifitas dann digital marketing kita. Pemerintah Kabupaten Gowa melalui Dinas Koperasi dan UMKM sangat mendukung usaha kami, yang diwujudkan dengan sejumlah bantuan peralatan,” jelasnya.
PT Lontara Jaya Nusantara juga telah melakukan digitalisasi dan menggunakan teknologi tepat guna yang sebagian besar bantuan dari Pemkab Gowa.
“Produk kami yang menjadi andalan adalah madu yang diproduksi melalui proses teknologi tepat guna. Tidak semua madu merupakan hasil produksi teknologi. Proses produksi madu yang telah diuji lab adalah selama 3×24 jam. Ini untuk hasilkan madu berstandar ekspor,” sebut Ariyani.
Lebih lanjut dipaparkan Ariyani, bahwa salah satu presentasi yang menjadi penilaian di Pinoti adalah target 5 tahun ke depan, terkait sistem maupun pangsa pasar.
“Dengan adanya rekayasan teknologi ini, kami berharap dalam kurun waktu 5 tahun ke depan bisa menjadi perusahan pengekspor madu terbesar di Indonesia. Dengan omzet di atas Rp5 miliar,” katanya.
Ariyani menyebutkan, saat ini pihaknya memproduksi hingga 300 kilogram untuk tiga varian. Yaitu black honey, trigona, dan madu apis dorsata yang merupakan madu hutan.
“Produk kami tak hanya lokal dan nasional, tetapi sudah merambah ke sejumlah negara, seperti Arab Saudi, Kuala Lumpur, dan Brunei. Untuk pasar lokal di wilayah Sulsel masih terbilang yang cukup besar,” paparnya.
Selain itu, market mereka juga ada di sejumlah wilayah di Indonesia. Di antaranya Lampung, Padang dan Jakarta.
Ariyani berharap permintaan terus mengalami peningkatan. Saat ini, jumlah madu yang diproduksi sebanyak 300 liter/bulan, dengan kemasan berbeda yang disesuaikan dengan tujuan pasar, dengan produk yang best sellernya adalah black honey (madu hitam).
Saar ditanyakan perihal bahan baku, Ariyani menjelaskan, sumber terbesar bahan bakunya berasal dari kearifan lokal. Yaitu dari kelompok budidaya yang ada di Kabupaten Gowa.
“Bahan baku kita ambil dari kelompok budidayadi Pattalassang yang menjadi sumber bahan baku terbesar. Namun jika tak mencukupi, kami mengambilnya dari sejumlah wilayah lainnya di Sulsel, seperti Kabupaten Bone dan beberapa wilayah lainnya, seperti Palopo,” katanya.
Menurut Ariyani, untuk menjaga standar kualitas madu kami pihaknya difasilitasi oleh Badan Standarisasi Nasional untuk pemeriksan uji lab dan penerbita SNI nya.
“Untuk madu, sudah ada kebijakan pemerintah bahwa per 1 Februari 2024 izin edarnya tidak lagi diterbitkan oleh BPOM. Tetapi oleh Kementerian Pertanian melalui Dinas Peternakan,” ujarnya seraya menyebutkan bahwa produknya menyasar kelas menengah dan atas.
Sementara untuk pasar lokal dirinya menggunakan sistem marketing buyer to buyer, dengan omzet tak kurang dari Rp30 juta perbulan untuk pasar lokal.
