INFOKINI.ID, GOWA– Selama delapan tahun terakhir, hari-hari Syahrir Daeng Situru (35) bersama istrinya, Mantasia Daeng Patih (28), dan kedua anak mereka dihabiskan di dalam sebuah rumah berukuran 6×8 meter. Rumah sederhana yang merupakan harta warisan dari orang tua sang istri tersebut menyimpan cerita getir perjuangan hidup keluarga kecil ini.
Tiga tahun belakangan, kondisi rumah berukuran 6×8 meter tersebut kian memprihatinkan. Setiap kali hujan turun mengguyur Desa Kalebarembeng, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa, Syahrir dan keluarganya harus hidup dalam kecemasan. Atap rumah yang bocor membuat mereka harus bersiap siaga dengan puluhan ember di dalam ruangan untuk menadah air, sementara dinding yang retak dan balok-balok bangunan yang sudah rapuh terus-menerus menghantui keselamatan jiwa mereka.

Sebagai kepala keluarga, Syahrir sebenarnya tak tinggal diam. Namun, himpitan ekonomi membuatnya tak punya daya untuk melakukan perbaikan. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia hanya mengandalkan panggilan dari orang-orang yang membutuhkan tenaganya sebagai buruh harian, baik sebagai sopir maupun tukang.
Sementara itu, untuk mencukupi stok bahan pokok beras keluarganya, Syahrir mengolah dan menggarap secarik lahan pertanian milik orang lain. Luas lahan yang ia garap hanya pas-pasan, sekadar cukup menghasilkan padi untuk persediaan makan istri dan kedua anaknya sehari-hari.
“Jangankan untuk perbaiki rumah, untuk makan saja saya mengerjakan lahan orang agar bisa dapat padi yang disimpan untuk makan sehari-hari. Sementara untuk kebutuhan lain, saya bekerja serabutan, jika ada orang panggil sebagai tukang, pembayaran jasanya itu yang dipakai untuk membeli kebutuhan lain sehari-hari ,” kenang Syahrir menceritakan beratnya beban hidup yang ia pikul.
Kondisi memprihatinkan tersebut turut dibenarkan oleh Babinsa Desa Kalebarembeng yang juga membawahi Desa Barembeng, Serma Rifai. Menurutnya, warga yang terpilih sebagai sasaran renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ini memang menghuni bangunan yang membahayakan dan tidak sehat.
“Memang warga tersebut yang masuk dalam program renovasi RTLH menghuni rumah yang tidak layak. Selain karena berbahaya juga tak sehat karena bahan-bahan sudah rapuh, juga saat musim penghujan memang bocor. Sehingga mereka harus menyiasatinya menempati tempat yang tidak bocor untuk istirahat atau menggunakan ember penadah,” ungkap Serma Rifai.
Namun, air mata kesusahan itu kini perlahan berganti menjadi senyum penuh syukur. Melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 TA 2026 yang digulirkan Kodim 1409/Gowa, rumah warisan berukuran 6×8 meter milik Syahrir menjadi salah satu sasaran utama program renovasi RTLH. Dengan progres fisik yang telah mencapai 10 persen, mimpi memiliki tempat tinggal yang kokoh, aman, dan tanpa ember penadah air hujan akhirnya terwujud.
Dengan mata berkaca-kaca, Syahrir menyampaikan rasa syukur dan keharuannya yang mendalam atas bantuan bedah rumah yang diterima keluarganya melalui program TMMD ini.
“Saya tidak pernah bermimpi bisa memiliki rumah yang benar-benar layak bagi istri dan anak saya, karena dari sisi ekonomi tidak memungkinkan untuk saya memberikan rumah yang layak. Alhamdulillah dengan TMMD ini, saya dan keluarga sangat terbantu. Tidak lagi takut rumah roboh dan tidak perlu lagi pakai ember untuk menadah air hujan,” ungkap Syahrir penuh haru.

Menembus Dahaga dan Membuka Urat Nadi Ekonomi Petani
Kehadiran Satgas TMMD ke-130 di pelosok Gowa tidak hanya merajut asa di dalam rumah-rumah warga, tetapi juga mengalirkan kehidupan ke ruang-ruang publik yang selama ini terisolasi.
Di Dusun Kampung Parang, Desa Barembeng, prajurit TNI bersama warga menyusuri titik-titik sulit untuk menentukan pengeboran sumur bor dan merakit kerangka besi tower air bersih. Krisis air bersih yang bertahun-tahun merundung warga kini mendapat solusi permanen, menjamin kesehatan lingkungan serta sanitasi masyarakat setempat.
Tak kalah penting, denyut nadi perekonomian desa turut digenjot melalui pengerjaan Jalan Tani di Desa Kalebarembeng yang kini progresnya menembus 15 persen, beriringan dengan pembangunan talud penahan tanah yang telah mencapai 20 persen.
Bagi para petani penggarap seperti Syahrir, kehadiran jalan tani ini membawa dampak ekonomi yang luar biasa masif. Selama ini, para petani terbebani ongkos sewa ojek panggul sebesar Rp15.000 per karung karena akses jalan yang tidak bisa dilalui kendaraan maupun traktor.
“Selama ini kami sewa ojek (motor khusus yang telah dimodifikasi) untuk mengangkut hasil padi, per karungnya Rp15.000 satu kali angkut. Belum lagi kami sewa mesin blender karena jalan tidak memungkinkan penggunaan traktor. Dengan jalan tani ini, nantinya tentu traktor sudah bisa digunakan, sehingga kami para petani hanya mengeluarkan biaya untuk bahan bakar traktor saja. Kalau biasanya biaya satu kali panen bisa mencapai Rp2 jutaan, kini dengan jalan tani biaya bisa ditekan hingga tinggal setengahnya,” ungkap Syahrir penuh kelegaan.

Sinergi Kemanunggalan TNI dan Rakyat
Serma Rifai menambahkan bahwa antusiasme ribuan kepala keluarga di dua desa tersebut sangat tinggi menyambut program ini. Keterbatasan akses mobilitas yang selama ini membelenggu aktivitas pertanian perlahan diurai melalui kerja bakti dan gotong royong harian antara prajurit TNI dan masyarakat lokal.
Melalui sinergi yang solid, pengerjaan pembukaan jalur baru, perataan badan jalan, hingga struktur talud terus dikebut agar selesai sesuai target. Kodim 1409/Gowa membuktikan bahwa kehadiran TNI di tengah masyarakat bukan sekadar pengawal pertahanan negara, melainkan motor penggerak kesejahteraan sosial yang meruntuhkan dinding-dinding keterisolasian di pelosok daerah.(*)
















