INFOKINI.ID, GOWA– Di balik deru mesin material dan derap langkah ratusan prajurit yang menyukseskan Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 TA 2026 Kodim 1409/Gowa, terselip kisah kesederhanaan dan ketulusan pengabdian seorang Bintara Pembina Desa (Babinsa).
Ia adalah Serma Rifai. Prajurit TNI yang kini mengemban amanah mengampu dua wilayah binaan sekaligus, yakni Desa Barembeng dan Desa Kalebarembeng di Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa.
Selama gempuran program fisik TMMD berlangsung, ayah dari dua orang anak ini juga mengambil peran vital yang menyentuh nadi harian prajurit, yaitu memastikan pasokan nutrisi seluruh personel tetap terjaga.
Setiap hari, tanpa kenal lelah, Serma Rifai menunggangi sepeda motor kesayangannya menembus jalur antar desa berjarak sekitar 2 kilometer. Ratusan boks nasi ia antarkan tiga kali sehari ke enam titik pos tempat menginap para prajurit di rumah-rumah warga.

“Begitulah pengabdian. Kasihan warga kalau kita tidak turun langsung membantu. Sudah seperti itu tugas kita, dan ada kepuasan tersendiri bisa berguna bagi masyarakat,” ujar Serma Rifai dengan senyum polosnya saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026).
Selain memastikan pasokan logistik prajurit terjaga, ia juga adalah sosok dibalik penelusuran dan pendataan cermat warga yang berhak menerima bantuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Serma Rifai mengungkapkan bahwa dari hasil pengamatan langsung di lapangan selama bertahun-tahun menjabat sebagai Babinsa, kondisi para penerima bantuan bedah rumah tersebut memang sangat memprihatinkan dan benar-benar tepat sasaran.
“Yang saya data merupakan warga yang memang sangat layak. Ini berdasarkan data pengamatan dan penelusuran selama saya menjadi Babinsa,” ungkap Serma Rifai saat menceritakan perjuangan untuk warga binaannya, Kamis (22/10/2026).
Prajurit ramah ini menuturkan betapa besarnya dampak bantuan bedah rumah TMMD bagi warga kurang mampu. Jangankan merenovasi rumah agar kelihatan megah, untuk sekadar memperbaiki bagian bangunan yang rusak saja tak pernah terlintas di benak mereka.
“Mereka tidak pernah membayangkan bisa memperbaiki rumahnya. Bukan agar terlihat layak dan bagus, tetapi memperbaiki kerusakannya saja tidak pernah mereka bayangkan. Karena untuk hidup sehari-hari saja masih belum cukup, apalagi untuk memperbaiki rumah yang itupun adalah pemberian orang tua,” tuturnya dengan nada haru.

Di samping mengawal keakuratan data RTLH, ayah dua anak ini juga setia menunggangi sepeda motor kesayangannya menembus jalur antar desa berjarak sekitar 2 kilometer. Tak kurang dari 100 boks nasi ia distribusikan tiga kali sehari ke enam titik pos penginapan personel Satgas TMMD di rumah-rumah warga.
“Memang harus bolak-balik karena saya menggunakan motor untuk pengangkutan logistik tiga kali sehari. Begitulah pengabdian. Kasihan warga kalau kita tidak membantu dan memang sudah seperti itu tugas. Ada kepuasan tersendiri bisa berguna bagi masyarakat,” tambahnya.
Rekam jejak pengabdian Serma Rifai di tubuh TNI AD tergolong panjang. Mengawali karier militer lewat Sekolah Calon Tamtama (Catam) Gelombang I Tahun 1997 di Malino, ia pernah bertugas di Yonarmed 12/Kostrad Ngawi, Jawa Timur, lalu menjadi Babinsa di Kodim 1406/Wajo (2011–2018), hingga berpindah tugas ke Kodim 1409/Gowa.

Selama hampir 15 tahun bertugas sebagai Babinsa, suka dan duka di lapangan telah menjadi jalan hidupnya. Meski tak jarang, hati kecilnya merasa ganjal saat masalah antarwarga yang sebenarnya telah didamaikan secara kekeluargaan oleh Tiga Pilar Desa (Tripides) tetap dilanjutkan ke proses hukum formal.
Kini, menjelang lima tahun sisa masa dinasnya sebelum memasuki purna tugas (pensiun), Serma Rifai tetap mengabdi sepenuh hati. Melihat kebahagiaan dan senyum warga yang akhirnya bisa memiliki hunian layak menjadi kado terindah bagi perjalanan tugasnya di Kabupaten Gowa. Ketulusan Serma Rifai ini juga membuktikan bahwa kemanunggalan TNI dengan rakyat bukan sekadar jargon, melainkan napas pengabdian yang dihidupkan dengan keikhlasan di setiap sudut desa binaannya.(*)
















