INFOKINI.ID, MAKASSAR – Siswi SMP Muhammadiyah asal Surakarta, Fatiha Naimada Syarafana, meraih medali emas cabang News Reading in English tingkat SMP/MTs dalam ajang OlympicAD yang digelar Muhammadiyah di Makassar, Sulawesi Selatan, 12-14 Februari 2026.
Fatiha mengaku keberhasilan tersebut diraih melalui latihan intensif sejak Desember 2025, dukungan keluarga, serta penguatan nilai tawakal dan rendah hati selama kompetisi berlangsung.
Ia menuturkan, kemenangan itu menjadi pengalaman pertamanya mengikuti lomba di Makassar. Menurut dia, kompetisi berlangsung ketat, namun tetap menghadirkan suasana bersahabat dari para juri dan peserta.
“Honestly, it’s my dad,” kata Fatiha saat ditanya sosok pertama yang ia ingat setelah dinyatakan juara.
Ia menyebut ayahnya sebagai pendukung utama yang selalu memberi doa dan penguatan mental sebelum tampil.
Malam sebelum perlombaan menjadi momen paling emosional baginya. Fatiha mengaku sempat menghubungi sang ayah sambil menangis karena merasa gugup dan takut melakukan kesalahan di atas panggung.
“He is the only one that can comfort me, that can bring me affection and love that I need, that I can finally relax that night,” ujarnya. Doa sang ayah, kata dia, terjawab dengan raihan medali emas.
Fatiha menjelaskan, persiapan lomba dimulai sejak libur Desember 2025. Ia mencari guru les khusus newscasting dan secara mandiri mempelajari teknik membaca berita melalui berbagai video pembelajaran.
Ia melatih pelafalan (pronunciation), teknik membaca teleprompter, serta penguasaan intonasi dan artikulasi. Menurut dia, konsistensi latihan menjadi kunci membangun kepercayaan diri saat tampil.
Selain aspek teknis, Fatiha menekankan pentingnya nilai spiritual dalam proses meraih prestasi. Ia mengingatkan peserta untuk bertawakal kepada Allah dan menghindari prasangka buruk.
“Ada dua poin. Pertama, tawakal kepada Allah, jangan selalu suuzon, tetap husnuzon, positive thinking kepada Allah. Kedua, jangan sombong, tetap rendah diri,” ucapnya. Ia mengaku pernah merasa terlalu percaya diri hingga justru menjadi gugup saat tampil.
Bagi Fatiha, kompetisi tersebut juga mengajarkannya mengendalikan emosi dan menjaga sikap.
Ia menilai dukungan antarpeserta selama lomba menjadi pengalaman sosial yang berharga.
“Kesan saya, it’s actually a very great experience di Makassar. First impression-nya keren sekali,” katanya. Ia menambahkan, para juri memang tegas, tetapi tetap ramah sehingga suasana tidak terasa menegangkan.
Menurut Fatiha, ajang ini memperluas jejaring pertemanan lintas daerah. Ia mengaku belajar mendukung peserta lain meski berada dalam satu arena kompetisi.
Ia pun berpesan kepada pelajar Muhammadiyah di seluruh Indonesia agar terus bersemangat meraih prestasi, seraya tetap memegang nilai-nilai Kemuhammadiyahan.
“Semangat teman-teman! And please, do something that will make your future self proud,” ujarnya.
Ke depan, Fatiha berharap ajang serupa dapat digelar lebih meriah dengan melibatkan lebih banyak provinsi.
Ia membayangkan kompetisi tersebut menjangkau berbagai daerah di Indonesia sebagai wadah pembinaan bakat pelajar Muhammadiyah secara berkelanjutan.

















