INFOKINI.ID, GOWA– Ketokohan Syekh Yusuf, sosok pahlawan dengan karakter kuat sebagai pemimpin menjadi materi dalam dialog kebudayaan yang digagas Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) dan Merial Institute. Karakter Syekh Yusuf dinilai harus kembali dihidupkan, khususnya di kalangan generasi muda. Dilatarbelakangi pemikiran ini, AMSY dan Merial Institute menghadirkan sejumlah tokoh dalam dialog kebudayaan bertema “Spirit Patriotisme Lintas Zaman, Hidupkan Kembali Syekh Yusuf”, yang dirangkaikan juga dengan halal bi halal, Rabu (25/3/2026) di Museum Balla Lompoa, Kabupaten Gowa. Hadir dalam kegiatan yang dibuka Kadis Pariwisata dan Kebudayaan Gowa Ary Mahdin Asfari mewakili Bupati Gowa, Ketua Majelis Pemangku Adat Tinggi Kerajaan Gowa, Andi Bau Malik, Tokoh Kerajaan Gowa sekaligus Ketua Dewan Mesjid Sulsel, Mayjen TNI (Purn) Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki, dan Ketua Umum FKGP Sultan Hasanuddin, Andi Pangerang Nur Akbar. Sementara pada sesi Dialog Kebudayaan yang dipandu M Saiful, dihadirkan tiga narasumber, yaitu Arief Rosyid Hasan selaku Ketua AMSY sekaligus Founder Merial Institute, Adi Suryadi Culla selaku Akademisi dari Unhas dan Prof Wahyudin Halim yang merupakan akademisi dari UIN.
Ketua AMSY sekaligus Founder Merial Institute, Arief Rosyid Hasan mengungkapkan, dari kacamatanya, ketokohan dan karakter Syekh Yusuflah yang harus menjadi teladan bagi para pemimpin. Syekh Yusuf dikenal sebagai pahlawan dan pemimpin, bukan karena “titipan” nama, tapi dari karya dan perjuangannya dimanapun berada. “Syekh Yusuf itu adalah tokoh yang lahir dalam suasana yang sangat meritokratis di Sulsel atau di Sulawesi. Meski ada dua perdebatan tentang latar belakang Syekh Yusuf, tetapi seorang Syekh Yusuf merantau ke mana-mana, dan dia menjadi pejuang di berbagai tempat. Sebenarnya Sulawesi ini selalu melahirkan banyak tokoh-tokoh besar, tapi dalam suasana yang meritokratis. Tapi, maaf ya, sebagai kritik sosial, saat ini orang jadi pemimpin di Sulawesi Selatan, nanti pi’ nama besarnya atau nama depannya. Ini menjadi semacam refleksi bagi kita, bahwa anak muda di Sulsel ini tidak boleh minder, harus juga bisa berdiri dengan kakinya sendiri, dengan pengetahuannya, bahwa dia adalah calon pemimpin di masa yang akan datang. Sehingga itu meruntuhkan image bahwa di Sulsel ini yang bisa memimpin itu hanya orang yang punya nama belakang. Maaf, karena banyak juga yang punya nama belakang tapi tidak punya kompetensi dalam memimpin,” tegas Arief, usai dialog.
Ditambahkannya, Syekh Yusuf yang juga disebut sebagai tokoh Hak Asasi Manusia berkarakter jujur. Arief secara gamblang mengaitkannya dengan berbagai kasus korupsi yang menimpa beberapa pemimpin Sulsel belakangan ini. Bahkan menurutnya, ini harus menjadi pembahasan penting para tokoh Sulsel dalam momen besar, seperti perhelatan Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM). “Syekh Yusuf juga tokoh yang sangat jujur. Ini juga jadi bahan refleksi kita di Sulsel. Tiga Gubernur Sulsel terakhir terkena musibah, sebut korupsi. Harusnya, PSBM itu juga mendiskusikan bagaimana agenda-agenda moral. Jadi tidak hanya memamerkan mungkin kesuksesan, tapi juga menyerukan soal moral. Bagaimana pemimpin Sulsel itu harus jujur, harus punya keteguhan hati terhadap kekuasaan, dia tidak silau terhadap harta dan segala macam. Hal-hal ini sebenarnya yang dirindukan. Di saat yang bersamaan juga, di Sulsel ini masih banyak juga orang yang miskin, masih banyak kesenjangan. Nah, PSBM ini kan saudagar yang datang dari berbagai tempat. Seharusnya juga memikirkan itu lebih serius. Jadi seruan-seruan moral itulah sebenarnya yang tadi kita diskusikan dan bisa menjadi renungan. Bagaimana Syekh Yusuf itu yang punya keilmuan, tawadu, tapi dia juga jenderal perang, dia panglima perang, dia dihargai walaupun dia dibuang ke Cape Town, dia tetap produktif di sana,” jabar Arief dengan semangat.
Disebutkannya, dialog yang digagas AMSY dan Merial Institute bertujuan membangun narasi positif, terkait legasi Syekh Yusuf, tentang keilmuan, tentang sistem yang meritokratis, tentang perjuangan terhadap Hak Asasi Manusia, bagaimana dia jujur, bagaimana dia tidak silau terhadap kekuasaan, bagaimana perlawanan terhadap kaum mustad’afin ini selalu hadir. Bukan malah ketika diberi kekuasaan, dia kemudian silau terhadap itu. Jadi saya kira diskusi-diskusi seperti ini menjadi sangat penting, fundamental dan itu yang akan terus kami suarakan sebagai kontekstualisasi dari apa yang sudah dilakukan oleh Syekh Yusuf Al-Makassari. Menurut saya, perenungan tentang kepemimpinan yang mengayomi, kepemimpinan yang tidak korup, saudagar yang harus menyejahterakan, yang memikirkan orang-orang miskin dan susah di Sulawesi Selatan, inilah yang harus dikedepankan,” kuncinya.
Hal senada juga diungkapkan Tokoh Kerajaan Gowa yang juga mantan Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI (Purn) Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki. Menurutnya, jiwa patriotisme yang dimiliki Syekh Yusuf menggambarkan sosok pemimpin yang mencintai rakyatnya, rela berkorban untuk rakyat, bangsa dan negaranya. Tak hanya itu, Andi Muhammad juga menyebut bahwa Syekh Yusuf adalah sosok pemberani yang memegang teguh keyakinannya dan tak gentar dalam melawan kezaliman yang dilakukan para penjajah.
“Seorang Syekh Yusuf lahir di abad ke 16. Perjuangan beliau bukan hanya diakui oleh kita orang Gowa saja, tapi juga diakui dunia. Dalam hijrah dan perjalanannya, selalu mensyiarkan agama Islam. Sosok ini telah menunjukkan bagaimana cinta tanah air. Jiwa kepahlawanannya dan jiwa berkorbannya yang harus diulas. Ini luar biasa. Syekh Yusuf meninggalkan Gowa karena tidak sepakat dengan penjajah di saat itu. Hal lain yang juga harus kita pedomani dari Syekh Yusuf adalah beliau adalah sosok yang istiqomah dan selalu mengingat Sang Pencipta. Syekh Yusuf juga adalah sosok yang cinta tanah air, pantang menyerah dan rela berkorban untuk bangsa dan negara,” jelas Andi Muhammad.(*)















