INFOKINI.ID, GOWA – Museum Balla Lompoa yang banyak menyimpan sejarah kerajaan Gowa, semakin diminati para wisatawan mancanegara untuk dijadikan destinasi wisata budaya. Hal ini terbukti dari jumlah kunjungan yang terus meningkat setiap tahunnya.
Data Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Gowa mencatat, per Oktober 2025 kunjungan di Museum Balla Lompoa sudah mencapai 6.463 dari target 1.069 kunjungan.
Meningkatnya jumlah kunjungan ke Museum Balla Lompoa ini tak terlepas dari upaya promosi yang terus dilakukan Disparbud Gowa.
“Kami terus melakukan promosi, baik melalui media sosial, kerja sama dengan agen wisata, lembaga
pendidikan untuk peningkatan kunjungan ke Museum Balla Lompoa. Ini juga menjadi wadah pertukaran
budaya sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah lokal kita kepada dunia,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Gowa, Ikbal Thiro.
Selain itu, pihak museum juga mengadakan berbagai kegiatan kebudayaan, seperti pertunjukan seni tradisional dan workshop pembuatan kerajinan tangan. Hal ini turut menjadi penarik minat para wisatawan untuk datang berkunjung.
Sekadar diketahui, Museum Balla Lompoa hingga saat ini bukan hanya menjadi tempat untuk menyimpan koleksi benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi simbol dari warisan budaya kerajaan Gowa yang kaya.
Sejak periode November 2025, Disparbud Gowa juga mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara mulai dari Australia, Taiwan, Belanda, hingga Jerman, mengalami peningkatan signifikan.
“Selama beberapa bulan terakhir, kami mencatatkan angka kunjungan yang signifikan. Wisatawan asing
banyak yang tertarik dengan sejarah kerajaan Gowa, terutama setelah ada promosi tentang keunikan
budaya dan situs sejarah yang ada di Gowa,” ungkap Ikbal Thiro.
Untuk informasi, Museum Balla Lompoa Gowa didirikan pada tanggal 11 Desember 1973. Balla Lompoa dapat diartikan rumah besar atau istana bagi raja-raja dari Kerajaan Gowa.
Museum ini dibangun di areal seluas 7663 m2 tahun 1936 di masa Raja Gowa ke-XXV. Luas bangunan kayu 1144 m2. Bangunan ini terbuat dari bahan kayu jati bercorak arsitektur tradisional. Ada juga terdapat teknik modern di beberapa bagian tertentu, misalnya di persambungan kayu menggunakan baut, bahkan bagian dapurnya menggunakan bahan batu bata.
Jenis koleksi yang terdapat di Museum Balla Lompoa seperti koleksi sejarah, etnografi, numismatik, dan heraldik. Koleksi histori terdiri dari seperangkat alat-alat kerajaan seperti:
Salokoa mahkota yang terbuat dari bahan emas murni, beratnya 1766 gram. Salokoa adalah wujud kebesaran Raja Gowa yang dipakai pada upacara pelantikan atau penobatan Raja.
Ponto janga-jangaya: gelang tangan dari bahan emas berbentuk naga yang melingkar dengan dua kepala yang mulutnya terbuka. Gelang ini merupakan tanda kebesaran Raja Gowa yang digunakan pada upacara pelantikan/penobatan Raja Gowa.
Kotara, yaitu rantai emas panjang seberat 270 gram. Merupakan tanda kebesaran Raja yang bernama I Tani Samang (yang tidak ada namanya)
Waktu kunjungan yang disediakan pihak museum dimulai hari Senin sampai dengan Kamis pukul 08.00 – 13.00 WITA. Hari Jumat dibuka pukul 08:00 – 11.00 WITA sedangkan hari Sabtu pukul 08.00 – 12.00 WITA. sedangkan untuk tiket Masuk Museum tidak ditentukan bayarannya atau sukarela saja.
Museum Balla Lompoa juga dilengkapi dengan fasilitas seperti Ruang Administrasi, Gudang, Ruang Konservasi , Ruang Auditorium, Ruang Pameran Tetap, Ruang Admnistrasi, Ruang Konservasi dan Preparasi.
Museum Balla Lompoa utamanya digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda kerajaan Gowa. Pemerintah Kabupaten Gowa juga menggunakan museum Balla Lompoa sebagai tempat pelaksanaan upacara-upacara adat yang menjadi agenda tahunan yatu ”accera kalompoang.”
Upacara adat ini merupakan kegiatan pencucian benda-benda pusaka kerajaan yang dilaksanakan setiap bulan Zulhijah atau pada hari raya Idul Adha dan telah berlangsung sejak masa pemerintahan Raja Gowa ke-14, yaitu Sultan Alauddin. (*)















