Peneliti FIKP Unhas Lakukan Riset Ekosistem Bawah Laut Bersama OceanX dan BRIN

Peneliti dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (FIKP Unhas) bersama tim terlibat dalam riset laut dalam di kompleks gunung laut di utara Sulawesi. (dok. unhas)

INFOKINI.ID, MAKASSAR – Peneliti dari Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Hasanuddin (FIKP Unhas), Dr. Jamaluddin Fitrah Alam bersama tim terlibat dalam riset laut dalam di kompleks gunung laut di utara Sulawesi.

Riset ini merupakan kolaborasi OceanX dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang memanfaatkan kapal riset R/V OceanXplorer untuk mengeksplorasi keanekaragaman hayati pada ekosistem gunung laut.

Kegiatan riset di atas R/V OceanXplorer ini menjadi bagian dari Misi Kolaborasi Riset Laut Dalam 2025 bertajuk Beneath the Ring The Sulawesi Seamounts.

Riset dirancang dalam dua tahap. Tahap pertama telah diselesaikan pada Desember 2025, sementara tahap kedua yang berlangsung pada 4–25 Januari 2026 berfokus pada kajian keanekaragaman hayati serta dinamika ekologi gunung laut melalui dukungan ROV, kapal selam, analisis DNA lingkungan (eDNA), dan instrumen oseanografi.

Ditemui pada Kamis (22/01/2026), Jamal menjelaskan, misi ini menargetkan ekosistem gunung api bawah laut di Laut Sulawesi yang masih minim dijelajahi.

Wilayah kajian berada di luar laut teritorial, namun masih termasuk Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia. Data pionir yang dihasilkan diharapkan dapat memperkuat dasar ilmiah bagi perumusan rancangan Kawasan Konservasi Laut Nasional.

Pada etape kedua, terdapat 16 peneliti dari sejumlah institusi selain Unhas, antara lain Institut Teknologi Bandung, Hokkaido University, Universitas Maritim Raja Ali Haji, Indo Ocean Foundation, University of Rhode Island, dan Universitas Padjadjaran.

Kolaborasi lintas institusi ini diharapkan memperkuat kualitas data, kedalaman analisis, serta pertukaran keahlian antar tim dalam studi laut dalam.

“Dari berbagai topik kajian dalam misi ini, tim Unhas menyoroti keterkaitan gunung laut dengan proses oseanografi dan produktivitas ekosistem. Kami mengumpulkan sampel air dan sedimen pada beberapa zona kedalaman. Pengambilan sampel sedimen mengikuti struktur gunung laut yang terletak pada kedalaman 4000m dari permukaan dengan dari puncak, lereng atas, lereng bawah, hingga bagian dasar,” jelas Jamal.

Menurut Jamaluddin, laut dalam umumnya memiliki massa air yang berlapis dan relatif stabil. Namun, ketika arus berinteraksi dengan morfologi gunung laut, stratifikasi tersebut dapat terganggu sehingga memperkuat pencampuran dan pertukaran vertikal.

“Proses ini penting karena nutrien yang selama ini ‘terkunci’ di lapisan lebih dalam berpotensi terdorong ke kedalaman yang lebih dangkal melalui proses upwelling,” tambah Jamal.

Dalam kondisi tertentu, Jamal melanjutkan, mekanisme tersebut dapat memicu peningkatan produktivitas primer dan memperkuat ketersediaan pakan alami pada rantai makanan laut. Untuk menjelaskan alur prosesnya secara lebih terukur, tim mengembangkan pendekatan pemodelan ekosistem.

Model ini ditujukan untuk menautkan dinamika fisik, pertukaran massa air, ketersediaan nutrien, hingga implikasinya terhadap produktivitas dan jejaring makanan.

Penelitian di kawasan gunung laut Sulawesi Utara ini dinilai penting untuk memperluas basis pengetahuan tentang ekosistem laut dalam Indonesia.

Di tengah meningkatnya perhatian pada laut dalam, baik untuk konservasi maupun pemanfaatan, riset berbasis data lapangan dan analisis terpadu menjadi fondasi agar kebijakan dan perencanaan ruang laut disusun berdasarkan bukti ilmiah yang memadai.

Selain menghasilkan data dan temuan ilmiah, Jamal menambahkan, misi ini juga diarahkan untuk memperkuat kapasitas peneliti Indonesia melalui pengalaman bekerja dalam lingkungan kapal riset berkapasitas besar dan lintas-disiplin.

Langkah ini diproyeksikan menjadi pijakan awal untuk mendorong kolaborasi riset laut dalam yang lebih panjang, terarah, dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *