INFOKINI.ID, HAMBURG – Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg bekerjasama dengan Perki KKI e.V. Hamburg dan PPI Hamburg, menggelar diskusi bertajuk “It’s Not a Joke – Sexual Harassment: Aufklärung & Workshop”, di ruang serbaguna Evangelisch-Reformierte Kirche di Hamburg, Jerman, pada Jumat malam, 6 Februari 2026.
Diskusi diikuti sekitar 20 orang peserta yang sebagian besar adalah generasi muda Indonesia yang tinggal di Hamburg. Mereka mengajukan pertanyaan dan berbagi pengetahuan serta pengalaman selama di Hamburg.
Kegiatan diskusi ini menghadirkan dua orang nasasumber yang memberikan perspektif pelindungan hukum di Indonesia dan di Jerman. Mereka adalah Sylvana Apituley (Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia/KPAI) yang memiliki pengalaman dan jejak rekam panjang dalam penanganan isu HAM serta pelindungan anak dan perempuan, dan Christian Ariesanto (Ketua Perki KKI e.V. Hamburg).
Christian Ariesanto yang menggagas diskusi ini menyampaikan bahwa kegiatan ini dimaksud untuk menjamin keselamatan dan martabat para pemuda Indonesia yang datang ke Jerman dengan cita-cita yang tinggi, melalui pemahaman akan hak-hak mereka, serta membangun keberanian untuk berani berbicara dan mencari dukungan ketika menghadapi kekerasan dan pelecehan seksual.
Mengawali kegiatan, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Hamburg, Renata Siagian menegaskan bahwa pelecehan seksual dapat terjadi kepada siapapun, bukan suatu candaan, dan tidak dapat ditoleransi dalam bentuk apa pun.
Renata menekankan pentingnya keberanian untuk melapor dan mencari bantuan sebagai langkah pertama.
Lebih lanjut, Renata menyampaikan bahwa selama masa tugasnya, KJRI Hamburg telah menerima sejumlah laporan kasus kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual yang melibatkan WNI.
Ia menegaskan bahwa dalam situasi seperti ini, KJRI Hamburg memberikan akses awal ke ruang yang aman serta pendampingan dalam kapasitasnya, serta meyakinkan agar WNI tidak ragu-ragu untuk speak up dan melaporkan jika mengalami pelecehan seksual.
“Kami juga meyakinkan agar WNI tidak ragu-ragu untuk speak up dan melaporkan jika mengalami pelecehan seksual,” katanya.
Selain dibekali pemahaman mengenai bentuk-bentuk pelecehan seksual, pengenalan hak-hak dasar yang berlaku di Indonesia dan Jerman, serta informasi mengenai saluran bantuan yang dapat diakses secara aman dan bertanggung jawab, peserta juga didorong untuk berani menjadi ambassador bagi teman yang menjadi korban pelecehan seksual: peka, mau mendengar, dan membantu mengarahkan ke tempat yang aman. Hal-hal memberikan pemahaman yang menyeluruh kepada peserta mengenai isu utama yang dibahas.
Sementara Sylvana Apituley mengatakan bahwa tantangan bagi anak muda Indonesia adalah memiliki pengetahuan dan pengalaman mengenai apa itu pelecehan seksual, keberanian untuk speak up, dan membangun jejaring dukungan.
Salah seorang peserta, Yogi, menyampaikan kesannya terhadap acara diskusi ini, dan memberikan apresiasinya. Menurutnya, acara ini bermanfaat bagi peserta.
“Acara ini bermanfaat bagi kita untuk mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terkait kekerasan seksual, sehingga kita dapat lebih berhati-hati dan mengetahui mekanisme untuk melapor,” ujar Yogi.
Apresiasi juga disampaikan oleh seorang peserta yang menyatakan bahwa dirinya sekarang merasa lebih tenang, karena mengetahui bahwa hukum Jerman tidak bersifat diskriminatif terhadap pelapor tindak pelecehan seksual, dan bahwa seseorang tidak boleh dipecat karena melaporkan atasan yang melakukan tindak pelecehan seksual.
Dukungan pemerintah Indonesia lewat KJRI Hamburg dalam kegiatan ini memiliki relevansi yang semakin besar dalam konteks meningkatnya mobilitas WNI ke Jerman.
Pemerintah Indonesia saat ini mendorong penempatan tenaga kerja terampil (skilled workers) ke Jerman untuk menjawab kebutuhan pasar kerja dan membuka peluang kerja yang lebih luas bagi WNI.
Di sisi lain, jumlah WNI di Jerman juga terus bertambah melalui jalur studi, Ausbildung, maupun program au pair.
Dengan semakin banyaknya WNI yang berada di Jerman melalui berbagai jalur tersebut, tanggung jawab pelindungan, termasuk pencegahan dan penanganan pelecehan serta kekerasan, menjadi semakin besar.
KJRI Hamburg akan terus mendukung kegiatan edukasi dan penguatan berbasis komunitas seperti ini, sebagai salah satu langkah penting untuk memastikan WNI di Jerman dapat belajar, bekerja, dan beraktivitas dengan aman serta bermartabat.















