INFOKINI.ID, GOWA– Millenial Peduli Sulsel (MPS) kembali menggandeng Bank Sulselbar untuk aksi sosial. Program khitanan massal metode lem senilai ratusan juta rupiah digelontorkan gratis untuk 50 anak dari keluarga prasejahtera, Sabtu (11/4/2026) di Jalan Dg Gassing, Kelurahan BatangKaluku, Kecamatan Sombaopu, Kabupaten Gowa.
Untuk khitan metode lem ini, tarifnya cukup mahal. Satu anak, tarif normal khitan modern metode lem berkisar antara Rp2juta hingga Rp2,5 juta. Ketua MPS yang juga Legislator dari Partai Gerindra DPRD Gowa, Hasrul Abdul Rajab, menegaskan program ini murni untuk warga tidak mampu.

“Target khitanan massal yang dilakukan hari ini kita peruntukkan bagi 50 kuota anak. Semua yang hadir adalah warga tidak mampu berdasarkan kelengkapan yang dipersyaratkan, yaitu membawa surat keterangan tidak mampu dari kelurahan,” tegas Hasrul.
Hasrul yang lekat disapa HAR juga menyebutkan bahwa untuk aksi sosial memang menjadi fokus dari MPS. Hasrul juga secara jelas memberikan apresiasi khusus untuk Bank Sulselbar. “Kita juga banyak terima kasih kepada Bank Sulselbar yang selalu bersama dan mensupport untuk berbagai kegiatan sosial. Tahun ini Bank Sulselbar kembali support untuk aksi sosial ini. Metode khitan yang digunakan, normalnya jika ke klinik atau rumah sakit biayanya Rp2 juta hingga Rp2,5 juta. Alhamdulillah kita pada hari ini berikan gratis kepada puluhan anak, semoga bisa membantu dan membawa berkah,” beber Hasrul, yang juga menjabat Wakil Ketua 1 DPRD Kabupaten Gowa.
Terkait kegiatan rutin MPS, Hasrul menekankan, khitanan massal ini bukan program dadakan. “Program ini tidak ada momen spesial, tetapi merupakan salah satu program sosial rutin selain pasar murah. Dan untuk khitan massal ini, selain membantu anak-anak ikuti ajaran Islam, ini tentu baik untuk kesehatan. Karena khitan yang dilakukan pada usia 4-5 tahun paling bagus untuk kesehatan,” tambah HAR.
Terkait khitan yang menggunakan Metode Lem, dr Nuri dari Perifer Volunteer Medic & Logistic bongkar keunggulan metode lem. “Sunnat modern dengan menggunakan metode lem lebih simpel. Metode ini tidak pakai jarum suntik, tidak pakai gunting, tidak dijahit dan tidak perlu pakai perban,” jelas dr Nuri.
Ditambahkannya juga bahwa khitan metode ini minim dampak dan resiko. “Metode ini minim resiko infeksi dan pendarahan bahkan hampir tidak ada. Proses penyembuhannya luka tujuh hari. Sembuh sempurna hingga tiga bulan. Ini tergantung gizi yang dikonsumsi. Jika dibandingkan dengan metode konvensional, metode ini lebih simpel. Kalau khitan yang biasa pakai perban sehingga hari ketujuh harus kembali kontrol. Sedangkan metode lem, tidak perlu lagi untuk ganti perban,” jelasnya.
Rasa haru atas program sosial MPS ini disampaikan langsung salah seorang ibu. Junaedah, warga Jalan Matahari, Kelurahan Batangkaluku, Kecamatan Somba Opu, mengaku bersyukur. “Sebagai ibu saya tentu bersyukur dapat bantuan seperti ini. Bantuan yang membuat kita berkesempatan merasakan khitan metode modern yang harganya mahal. Semoga bantuan sepeti ini terus ada. Sehingga masyarakat seperti kita ini bisa juga merasakan metode modern tanpa perlu bayar,” ujarnya, di sela-sela mendampingi anaknya yang sedang di khitan.(*)















