Stop Tilang Manual dan Razia Liar, Begini Cara Kapolres Aldy Bangun Kepercayaan Publik

Kapolres Gowa, AKBP Muhammad Aldy Sulaiman, S.I.K., M.Si

INFOKINI.ID, GOWA– Kapolres Gowa AKBP Muhammad Aldy Sulaiman, S.I.K., M.Si mengambil langkah yang tidak biasa dan berlawanan, dengan melarang tilang manual dan razia liar di wilayahnya. Bagi sebagian pihak, keputusan tidak lazim itu terdengar seperti melonggarkan wibawa hukum dan beresiko. Namun di Gowa, pendekatan tersebut justru sedang diuji dan perlahan menunjukkan hasil. Terobosan ini bukan sekadar instruksi teknis. Ini adalah upaya menggeser paradigma, yaitu dari polisi yang ditakuti menjadi polisi yang dipercaya dan humanis.

Alih-alih mengedepankan represif, Aldy memilih membangun rasa aman lewat kehadiran aparat di berbagai lokasi untuk membantu masyarakat. Pagi hari di Gowa kini tampak berbeda, polisi hadir lebih banyak di titik rawan macet dan aktivitas warga, bukan untuk menilang, melainkan mengatur, membantu, dan berinteraksi. “Terlalu lama kita diukur dari berapa banyak surat tilang yang dikeluarkan. Padahal ukuran keberhasilan polisi seharusnya adalah berapa rasa aman yang dirasakan masyarakat,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).

Aldy sadar, citra negatif terhadap tilang manual yang kerap diasosiasikan dengan pungli dan transaksi di jalan, telah menggerus kepercayaan publik. Itu mendasari Aldy, memilih jalur yang lebih sulit dengan membangun legitimasi lewat pelayanan, bukan lewat penindakan. Langkah ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan upaya menggeser cara pandang dari polisi penindak menjadi polisi pelayan. Kepercayaan, kata Aldy, tidak tumbuh dari ketakutan, tapi dari kehadiran yang konsisten dan humanis.

Fokusnya bergeser dari mencari pelanggaran menjadi mencegah gangguan. Personel diarahkan mengedepankan teguran humanis, edukasi lalu lintas, serta patroli dialogis di pemukiman dan pusat keramaian. Meski masih dalam tahap pengujian, pola ini mulai mengubah wajah pelayanan kepolisian di Gowa lebih dekat, lebih dipercaya, dan lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Aldy menilai hal yang tak biasa ini akan berefek jangka panjang, karena menurutnya pendekatan represif sering kali hanya menghasilkan kepatuhan sesaat. Sementara edukasi, meski lambat, membangun kesadaran.

Fenomena ini bukan kebetulan. Melalui program Strong Point, Aldy memetakan titik-titik kerawanan berbasis aktivitas masyarakat, pasar, sekolah, simpang jalan, hingga jalur padat kendaraan. Di titik inilah polisi “dipasang”. Tidak hanya personel lalu lintas. Fungsi lain seperti Reskrim hingga Intelkam ikut diturunkan. “Kalau ada polisi di lapangan, masyarakat sudah merasa aman. Itu pencegahan paling awal. Pendekatan ini menempatkan visibilitas sebagai alat utama pengendalian situasi. Bukan reaksi, tapi kehadiran,” jelasnya.

Indikator awal mulai terlihat dari pelanggaran lalu lintas yang dinilai lebih terkendali secara situasional terutama di titik rawan yang dijaga langsung oleh personel. Tak hanya itu, di internal Polres Gowa, Aldy mendorong penggunaan data gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) sebagai basis kebijakan. Menurut Aldy, ukuran keberhasilan tidak berhenti pada persepsi aman.

Setiap laporan dianalisis, waktu kejadian, lokasi, jenis kejahatan, hingga pola berulang. Dari pola itu, patroli disusun. Dan hasil evaluasi internal menunjukkan, terjadi pergeseran pola gangguan kamtibmas. Titik rawan yang sebelumnya dominan mulai mengalami penurunan intensitas setelah dilakukan penguatan kehadiran polisi.

Meski tidak merilis angka detail secara terbuka, indikator kinerja internal menunjukkan tren penanganan perkara yang lebih cepat serta distribusi kejadian yang lebih terkendali.

Di sisi lain, tantangan terbesar justru datang dari dalam polri khusus di polres Gowa. Setiap bulan, ratusan perkara masuk ke Polres Gowa. Namun jumlah penyidik hanya sekitar 40 orang. Ketimpangan ini berpotensi menimbulkan penumpukan kasus yang pada akhirnya bisa berdampak pada kepercayaan publik.

Untuk mengatasi itu, Aldy Sulaeman juga turun langsung membedah berkas perkara bersama anggotanya, hampir setiap malam. Langkah ini mempercepat proses identifikasi masalah dalam penyidikan mulai dari kekurangan alat bukti hingga hambatan administratif.

Dampaknya cukup signifikan. Dalam evaluasi triwulan Polda Sulawesi Selatan, Polres Gowa yang sebelumnya berada di peringkat terbawah, melonjak ke posisi enam pada triwulan berikutnya. Lonjakan ini menjadi salah satu indikator peningkatan kinerja penanganan perkara. Pendekatan berbasis partisipasi masyarakat juga mulai menunjukkan hasil.

Pada 2025, Polres Gowa meraih peringkat pertama lomba Satuan Keamanan Lingkungan (Satkamling) tingkat Polda Sulsel. Capaian ini bukan sekadar prestasi simbolik, tetapi mencerminkan meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam menjaga keamanan.

Aldy menjelaskan, bahwa dalam konteks kriminologi, partisipasi warga merupakan salah satu variabel penting dalam menekan potensi kejahatan. Semakin tinggi keterlibatan masyarakat, semakin kecil ruang bagi tindak kriminal berkembang.

Aldy mengaku bahwa pendekatan yang kini dijalankan di Gowa berakar dari pengalaman personalnya. Sebelum menjabat sebagai Kapolres Gowa, ia menyempatkan berdoa di Multazam saat umrah bersama keluarganya meminta menjadi pemimpin yang bermanfaat.

Tak lama setelah itu, doanya di ijabah dan ia ditugaskan ke Gowa. Namun, penugasan ini tidak datang tanpa bayang-bayang kekhawatiran. Narasi media tentang tawuran dan kriminalitas di Sulawesi Selatan sempat membentuk persepsi negatif, bahkan di lingkungan keluarganya.

Kekhawatiran itu perlahan memudar setelah melihat langsung kondisi di lapangan. Model kepemimpinan Aldy bisa dibaca sebagai kombinasi tiga pendekatan, yaitu visibilitas, edukasi, dan berbasis data.

Ia tidak sepenuhnya meninggalkan penindakan, tetapi menggeser prioritasnya. Penegakan hukum tetap berjalan, namun ditempatkan sebagai langkah akhir, bukan yang utama.

Di sisi lain, pendekatan humanis tidak berarti lunak. Ia tetap menekankan ketegasan, terutama dalam menjaga disiplin internal dan kinerja penyidikan.

Apa yang terjadi di Gowa saat ini belum bisa disebut sebagai model baku. Pertanyaan besarnya tetap terbuka, yaitu apakah pendekatan tanpa tilang manual dan razia ini bisa bertahan dalam jangka panjang? Atau justru akan menghadapi titik jenuh ketika efek kejutnya hilang?

Namun, satu hal yang mulai terlihat kehadiran polisi yang lebih dekat, lebih terlihat, dan lebih komunikatif, telah mengubah cara sebagian masyarakat memandang institusi ini. Di Gowa, polisi tidak lagi sekadar penegak hukum. Mereka sedang diuji menjadi bagian dari solusi sosial.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *