Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, KJRI Hamburg Gelar Lokakarya ‘Rekat Bersama, Merawat Jiwa’ untuk WNI

Foto: ist

INFOKINI.ID, HAMBURG– Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg berkolaborasi dengan organisasi Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan Life Architekture sukses menyelenggarakan lokakarya khusus dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026.

Kegiatan bertajuk “Rekat Bersama, Merawat Jiwa” tersebut digelar di Aula KJRI Hamburg pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Agenda ini diinisiasi sebagai langkah nyata untuk mengikis stigma negatif, meningkatkan kesadaran publik, serta menyediakan ruang aman, inklusif, dan suportif bagi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di wilayah Jerman Utara.

PDAM

Konsul Jenderal RI di Hamburg, Renata Siagian, menegaskan bahwa penanganan isu kesehatan mental merupakan tanggung jawab kolektif yang memerlukan perhatian berkelanjutan dari semua pihak.

“Di balik setiap angka statistik, ada seseorang yang mungkin sedang berjuang, tetapi tidak tahu kepada siapa harus bercerita. Peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang telah diinisiasi sejak 1992 menjadi momentum penting untuk meruntuhkan stereotip dan stigma yang masih melekat,” ujar Renata dalam sambutannya.

Renata menambahkan, lokakarya ini menjadi bagian dari komitmen KJRI Hamburg dalam mengoptimalkan pelayanan publik dan perlindungan WNI. “KJRI ingin menunjukkan bahwa Saudara-saudara tidak sendirian. Negara hadir bagi lebih dari 7.100 WNI yang tersebar di wilayah Hamburg, Bremen, Niedersachsen, dan Schleswig-Holstein,” tegasnya.

Isu kesehatan mental kian mendesak di tengah tingginya tren gangguan jiwa global. Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) per September 2025 menunjukkan lebih dari satu miliar orang di dunia hidup dengan masalah kesehatan mental. Di Jerman, riset tahun 2024 mencatat tingginya angka depresi dan kecemasan yang rentan dialami perempuan usia muda. Sementara di Indonesia, survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 mendapati bahwa 1 dari 3 remaja berusia 10-17 tahun (sekitar 15,5 juta jiwa) mengalami masalah kesehatan mental.

Lokakarya yang diikuti sekitar 40 peserta dari berbagai kota di Jerman hingga Belanda ini dikemas dalam dua sesi utama yang saling melengkapi, yaitu Sesi Ruang Sadar yang difasilitasi oleh Bayu Prihandito dari Life Architekture. Pada sesi ini, peserta diajak melatih kesadaran diri (mindfulness), mengenali emosi, serta mengambil jeda dari rutinitas harian untuk merefleksikan kondisi emosional masing-masing. Sedangkan sesi lainnya, Sesi Kolase Kesehatan Mental, dipandu oleh Nelden Djakababa-Gericke dari Kesmenesia. Peserta diajak mengekspresikan perasaan dan makna personal melalui media tulisan reflektif serta karya seni kolase secara interaktif.

Kegiatan ini mendapatkan apresiasi hangat dari para peserta maupun fasilitator. Denka, salah seorang peserta, mengungkapkan bahwa acara ini memberikan ruang yang sangat berarti untuk berbenah diri. “Kita bisa merefleksikan diri untuk memiliki kesehatan mental yang lebih baik. Kegiatan ini menegaskan bahwa kita tidak sendirian di tanah rantau,” ungkap Denka.

Fasilitator Kesmenesia, Nelden Djakababa-Gericke, berharap dialog terbuka mengenai kesehatan mental ini dapat terus berlanjut secara konsisten. “Semoga ini menjadi awal bagi kita untuk terus melanjutkan perbincangan mengenai kesehatan mental secara berkelanjutan,” tuturnya.

Melalui momentum Hari Kesehatan Mental Sedunia 2026, KJRI Hamburg mengimbau seluruh masyarakat Indonesia di Jerman untuk saling merangkul, mendengarkan, serta menumbuhkan kepedulian antar sesama di perantauan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *