Diamanahkan Sebagai Komandan Secaba Rindam XIV/Hsn, Letkol Inf Syahri S.Pd: Tak Hanya Fisik, Lulusan Bintara Hasanuddin Harus Bisa Bersaing IPTEK

Komandan Secaba Rindam XIV/Hsn, Letkol Inf Syahri S.Pd.(foto:ist)

INFOKINI.ID, PAKATTO– Diamanahkan mengawaki Sekolah Calon Bintara (Secaba) Rindam XIV/Hasanuddin sebagai Komandan satuan, Letkol Inf Syahri S.Pd memiliki tekad terhadap para lulusan secaba dari Kodam XIV/Hasanuddin yang bermotto “Ayam Jantan Dari Timur”. Tekad yang disebutkan mantan Pabandya Lat Sopsdam II/Sriwijaya ini sebagai Pekerjaan Rumah (PR) baginya adalah merubah stigma yang terbentuk di luar bahwa lulusan secaba dari Kodam Hasanuddin hanya didominasi oleh keunggulan fisk dan jasmani saja. Sedangkan kemampuan intelektual dan keterampilan masih minim dibandingkan lulusan dari Pulau Jawa. “Stigma ini yang harus diubah. Karena sebenarnya itu sangat memungkinkan kita rubah. Tak hanya unggul jasmani, lulusan bintara kita harus mampu bersaing dalam kemampuan IPTEK dan keterampilannya,” tegas jebolan Sepa PK Tahun 1998 ini.

Letkol Inf Syahri S.Pd saat memberikan pengarahan dan motivasi kepada para siswa.(foto:ist)

Untuk mewujudkan PR tersebut, pria kelahiran Soppeng tahun 1973 ini mengaku tak hanya akan memacu dan memotivasi para siswa, tetapi juga “memaksa” para tenaga pelatih dan guru militer (gumil) untuk mengupdrade kemampuan dan keterampilan dari sisi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menguatkan dan memberi dorongan moril kepada para siswa.(foto:ist)

“Yang paling utama kita benahi ke dalam dulu untuk meningkatkan kemampuan tenaga pendidik/pelatih. Saya sebagai Dansecaba otomatis akan memacu kemampuan tenaga pelatih, termasuk bagaimana mentransfer ilmu ke anak didik. Dengan harapan saat mereka keluar, sudah siap untuk menempuh jenjang pendidikan selanjutnya, baik secara fisik jasmani, mental dan juga IPTEK. Selama ini lulusan Hasanuddin, terkenal dengan kegiatan fisik dan jasmaninya. Tetapi jika berbicara kemampuan IPTEK agak kurang. Ini yang harus dibenahi. Bagaimana caranya lulusan di sini berkemampuan fisik dan jasmani serta IPTEK yang harus bisa bersaing dengan lulusan luar khususnya Pulau Jawa. Stigma itu terbentuk, sehingga semua satuan di seluruh Indonesia, jika ada atlet, pasti ada Hasanuddin. Sementara untuk IPTEK, Jawa masih mendominasi. Itu stigma yang yang harus dihilangkan dan menjadi PR saya,” ujar lulusan Seskoad tahun 2021 ini, seraya menambahkan bahwa selain mengirim gumil untuk mengikuti kursus juga melaksnakan pelatihan dalam satuan secara berkala dengan tujuan seluruh pelatih dan gumil memiliki persamaan ilmu dan persepsi dalam mentranfer ilmu ke siswa.

Pembekalan IPTEK kepada siswa.(foto:ist)

Sementara itu, perwira yang telah mengantongi enam tanda kehormatan dari negara ini mengungkapkan bahwa stigma tersebut juga bisa berubah jika para siswa memang memiliki tekad untuk maju. “Tak henti saya sampaikan dan memacu seluruh siswa di setiap kesempatan, bahwa kita terlahir dan dibentuk karakter daerah masing-masing. Yang kurang harus diubah dan dibenahi. Karakter Bugis Makassar dimanapun ketahuan karena memang sangat kuat dengan ciri khasnya. Jadi jangan berhenti belajar dan berbenah diri karena semua memiliki peluang untuk maju. Memanfaatkan kemajuan teknologi untuk mengupgrade kemampuan intelektual dan menguasai teknologi. Jika terus belajar, pasti bisa” tegas Letkol Inf Syahri.

Mengawasi langsung latihan fisik dan jasmani siswa.(foto:ist)

Hal lain yang disebutkannya sebagai bekal dalam merubah stigma itu adalah melakukan proses bimbingan dan pengasuhan (bimsuh). “Memang beberapa tahun terakhir Bimsuh tidak ada anggaran khusus akan tetapi tetap kita lakukan untuk meningkatkan kemampuan para siswa. Bimsuh menjadi proses pemberian materi tambahan dari yang didapat dari kelas. Telah sudah ada upaya dari Danrindam dan Pangdam untuk  memberikan bimsuh IT. Itu sudah kita lakukan dengan tetap mengatur jadwalnya dengan kurikuler lainnya. Bimsuh seperti Bahasa Inggris dan keterampilan mengaplikasikan komputer ini kita butuhkan untuk membekali para siswa, agar mereka bisa bersaing dengan lulusan lainnya. Ini menjadi bagian dari upaya kita dalam menyempurnakan para lulusan agar tak hanya unggul dari kemampuan fisik dan mental saja, tetapi juga bisa bersaing dari sisi kemampuan intelektualnya,” kunci prajurit yang pernah ditugaskan pada medan operasi di Tim-tim, Atambua, Irian Jaya dan Aceh.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *