INFOKINI.ID, GOWA– Di tengah ancaman fenomena El Nino yang mulai mengeringkan sejumlah sumber air di Sulawesi Selatan, Perumda Air Minum Tirta Jeneberang Kabupaten Gowa justru menunjukkan optimisme tinggi. Di saat daerah tetangga mulai krisis air baku, Kabupaten Gowa diprediksi tetap stabil dan aman dari gangguan suplai air bersih.
Plt Direktur Utama yang juga Direktur Teknik Perumda Tirta Jeneberang, Irianto Razak, saat ditemui Rabu (6/5/2026) mengungkapkan, posisi geografis Gowa merupakan anugerah yang luar biasa. Berbeda dengan Makassar atau Maros yang mulai terdampak keringnya sumber air di Lekopancing, Gowa memiliki pertahanan berlapis dalam menjaga ketersediaan air.
Rahasia Ketahanan Air Gowa
Menurut Irianto, kunci utama kekuatan Gowa ada pada sistem gravitasi air baku Bili-bili. “Salurannya tertutup sehingga tingkat kebocoran sangat kecil sekali. Ini modal utama kita memanfaatkan air baku secara maksimal,” ujarnya.
Selain itu, Gowa memanfaatkan sistem pompanisasi dari Sungai Jeneberang. Selama air di sungai masih tersedia, pompa akan terus bekerja menyuplai kebutuhan warga. Strategi ini diklaim jauh lebih tangguh dibandingkan daerah tetangga yang sumber air bakunya mengalami penurunan drastis hingga di atas 50 persen.
Gerak Cepat Pantau Titik Rawan
Tak mau kecolongan, Irianto Razak telah melakukan peninjauan langsung ke wilayah IKK yang dianggap rawan terdampak, seperti Bontonompo dan Bajeng. Fokus utamanya adalah memastikan distribusi tetap lancar meski sumber air di Sungai Palekko juga diperebutkan oleh pihak lain, termasuk pabrik gula dan PDAM Takalar.
“Saya tekankan untuk semua menjaga dan menjamin tidak ada masalah. Di Bajeng, posisi air di Bendungan Kampili juga masih aman karena memasuki musim tanam, sehingga ketersediaan air di irigasi harus terpenuhi,” tambahnya.
Inovasi SPAM Regional dan Armada “Mobile” 24 Jam
Kabar baiknya, Gowa juga akan semakin mandiri dengan kehadiran SPAM Regional Maminasata. Dengan suplai tambahan 20 liter per detik, Gowa tidak perlu lagi bergantung pada air irigasi, sehingga sektor pertanian dan perikanan tetap terjaga tanpa mengganggu suplai air bersih warga.
Sebagai langkah darurat (contingency plan), PDAM Gowa menyiagakan tiga unit mobil tangki yang siap bergerak 1×24 jam jika ada laporan kendala di lapangan. “Kami tidak mau ada keluhan yang tidak ditanggapi. Tim tangki selalu stand bye,” tegas Irianto.
Kualitas Air Tetap Jernih
Meski musim kemarau memicu pertumbuhan lumut dan eceng gondok di permukaan sungai yang bisa mengubah bau air, pihak PDAM menjamin kualitas produk tetap terjaga. Saat ini, tingkat kekeruhan (NTU) air di Gowa berada di angka normal 80-90.
“Tim laboratorium di IKK Pandang-pandang rutin melakukan uji sampel setiap saat. Kami pastikan air yang sampai ke rumah masyarakat adalah produk yang sehat dan berkualitas tinggi,” pungkasnya.(*)















