INFOKINI.ID, NEW YORK– Pemerintah Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump secara resmi melayangkan undangan kepada Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 yang dijadwalkan berlangsung di Miami pada Desember mendatang.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengonfirmasi kabar tersebut di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York. Langkah diplomasi ini diambil Washington sebagai bagian dari pendorong utama untuk mengakhiri konflik bersenjata antara Rusia dan Ukraina yang kini telah berjalan lebih dari empat tahun.
“Untuk menyelesaikan masalah, Anda harus bertemu dengan orang-orang yang tidak sependapat atau memiliki perselisihan dengan Anda. Karena itu, kami mengundang Presiden Putin ke KTT G20,” ujar Rubio kepada wartawan usai menggelar pertemuan bilateral dengan Menlu Rusia Sergei Lavrov.
Rubio menilai forum KTT G20 di Miami menjadi momentum krusial bagi Putin untuk berdialog langsung dengan Presiden Trump serta jajaran pemimpin dunia lainnya guna mencari jalan keluar atas krisis geopolitik global saat ini.
Di tengah tingginya tensi militer, Washington kini fokus mendorong skema gencatan senjata parsial yang menyasar sektor energi. Rubio mengklaim baik Moskow maupun Kyiv telah menunjukkan minat awal terhadap kesepakatan perlindungan fasilitas energi tersebut.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi kesiapan negaranya untuk menghentikan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, dengan syarat Moskow melakukan hal serupa. Sikap ini diambil Zelensky setelah berdiskusi langsung dengan Trump, yang menekankan pentingnya mengakhiri perang sebelum memasuki musim dingin.
Meski pintu diplomasi dibuka, jalan menuju perdamaian permanen masih dipenuhi keraguan. Dalam sidang Dewan Keamanan PBB, Menlu Rusia Sergei Lavrov menegaskan bahwa Moskow belum berencana menghentikan operasi militernya dalam waktu dekat. Lavrov menuding negara-negara Eropa hanya memanfaatkan jeda pertempuran untuk memperkuat pasokan senjata ke Kyiv.
Menanggapi hal itu, Menlu Ukraina Andriy Sybiga menilai pernyataan Rusia menegaskan ancaman nyata yang dihadapi Eropa secara keseluruhan. Dukungan terhadap Ukraina pun terus mengalir; sebanyak 51 negara, termasuk Prancis, Inggris, Jepang, dan Kanada, menerbitkan pernyataan bersama yang mengecam gangguan Rusia terhadap jalur perdagangan biji-bijian di Laut Hitam dan menyerukan perlindungan bagi infrastruktur vital pelayaran komersial.
Pertemuan tatap muka antara Trump dan Putin di Miami mendatangkan harapan baru bagi dinamika krisis Eropa Timur, mengingat kedua pemimpin negara adidaya tersebut terakhir kali bertemu langsung pada tahun 2025. Selain fokus pada krisis Ukraina, Rubio juga menyempatkan diri memberi peringatan terkait dinamika di Timur Tengah, menyerukan pencegahan eskalasi konflik baru di kawasan Tepi Barat.(*)
















