Pemeliharaan Museum Balla Lompoa, Gunakan BOP dan APBD Gowa

Kabid Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Gowa, Ikbal Tiro.(Foto:ist)

INFOKINI.ID, GOWA– Keberadaan Museum Balla Lompoa yang terjaga hingga saat ini, merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam memelihara keberadaannya. Bahkan anggaran khusus disiapkan untuk saksi sejarah kemegahan Kerajaan Gowa, yang berlokasi di Jalan KH. Wahid Hasyim, Kota Sungguminasa ini.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud)  Kabupaten Gowa Ikbal Thiro mengaku, pemeliharaan Museum Balla Lompoa dilakukan secara menyeluruh, baik terhadap sarana dan prasarana bangunan fisik museum, hingga perlengkapan (aksesoris) koleksi yang ada di dalam museum.

“Untuk pemeliharaan museum ini kita mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat melalui Kemendikbudristek. Dimana melalui dana DAK kami diberikan Bantuan Operasional Penyelenggaraan (BOP) Museum,” katanya saat menjelaskan tentang penganggaran pemeliharaan museum. 

Kata Ikbal, dana BOP museum yang diterima tahun ini sebesar Rp800 juta. Dimana dari dana tersebut 20 persen atau sekitar Rp160 juta dialokasikan untuk pemeliharaan museum, sesuai dengan petunjuk teknis yang ada.

“Jadi memang bantuan ini kita peruntukkan untuk tiga kegiatan besar. Antara lain, pemeliharaan koleksi yang ada dalam museum sebesar 30 persen, kegiatan publik sebesar 50 persen, dan pemeliharaan sarana dan prasarana (termasuk tubuh museum) sebesar 20 persen,” terangnya.

Ia menyebutkan, pemeliharaan sarana dan prasarana tersebut terdiri dari pengecatan bangunan museum, penggantian beberapa lemari koleksi yang dianggap telah rusak atau tidak layak pakai, penggantian engsel dan kunci lemari koleksi. Kemudian, fumigasi atau mensterilkan koleksi-koleksi yang berbahan besi, kuningan, dan tembaga, serta bentuk pemeliharaan lainnya.

Menurutnya, hingga saat ini pihaknya juga terus melakukan upaya agar keberadaan Museum Balla Lompoa dapat terus terjaga dan lestari. Salah satunya dengan senantiasa menyiapkan dana anggaran pendamping yang bersumber dari APBD.

“Selain itu memberikan edukasi kepada para pengunjung untuk tidak merusak dan merubah bentuk benda-benda atau koleksi yang ada di dalam museum,” ujarnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *