INFOKINI.ID, GOWA– Dinas Pariwisata dan Kebudayan Kabupaten Gowa menggelar kajian sejarah tentang Karaeng Patingalloang. Bertempat di situs bersejarah Museum Balla Lompoa, dilakukan kajian mendalam yang mengupas rekam jejak kepahlawanan, sekaligus seorang intelektual terbesar dunia dari tanah Makassar, yaitu Karaeng Patingalloang.
Langkah ini bukan sekadar nostalgia sejarah masa lalu. Kegiatan ini dirancang tajam dengan membidik tiga generasi penentu masa depan, Milenial, Gen Z, dan Generasi Alpha. Kegiatan yang digelar Kamis (4/6/2026) ini, menjadi upaya membentengi tiga generasi ini dari distrupsi teknologi lewat heroisme lokal. Dalam kajian ini dihadirkan dua pemateri, yaitu Hasan Hasyim, Ketua Badan Pelestarian dan Pembangunan Peradaban Islam YAPPMI dan Iswadi, perwakilan dari Badan Pelestarian Kebudayaan (BPK) XIX.

Kabid Kebudayaan Disparbud Gowa, Ingga Arfandi, menjelaskan zaman distrupsi teknologi saat ini perlahan tapi pasti mulai mengikis batas-batas nasionalisme. Generasi muda lebih akrab dengan tren global di layar gawai ketimbang kisah heroik para pendahulu mereka. Menyadari ancaman cultural amnesia ini, Disbudpar Gowa bergerak agresif.
“Kajian sejarah ini hadir sebagai benteng pertahanan ideologi. Tujuannya tegas, yaitu memasyarakatkan dan memassifkan kembali fungsi museum agar tidak dianggap hanya tempat penyimpanan barang kuno, melainkan sebagai pusat episentrum edukasi dan ruang publik yang hidup bagi anak muda,” ujar Ingga, saat ditemui di Museum Balla Lompoa.
Ingga juga menjabarkan alasan kajian terhadap sosok Karaeng Pattingalloang yang memiliki nama lengkap I Mangngarabombang. Karaeng Pattingalloang merupakan pangeran sekaligus perdana menteri Kerajaan Gowa-Tallo sekitar tahun 1639-1654.
“Melalui figur Karaeng Patingalloang, merupakan seorang sosok raja sekaligus pahlawan cerdas yang dikenal menguasai banyak bahasa asing, mencintai sains, dan memiliki wawasan kosmopolitan, generasi muda Gowa diajak untuk melihat bahwa menjadi modern dan cerdas tidak harus kehilangan akar budaya. Kajian ini juga menjadi upaya membekali edukasi sejarah pada generasi masa kini, sekaligus menggugah kembali semangat nasionalisme dan patriotisme mereka di tengah derasnya arus distrupsi teknologi,” jabar Ingga.
Ingga juga menjelaskan, dipilihnya Museum Balla Lompoa sebagai lokasi kajian memberikan atmosfer magis tersendiri. Di bawah atap rumah panggung megah khas Gowa ini, nilai-nilai patriotisme disuntikkan kembali. Anak-anak muda yang hadir tidak hanya mendengarkan narasi, tetapi juga merasakan langsung denyut nadi perjuangan dan kejayaan masa lalu yang harus mereka teruskan di era digital.
Ditambahkannya bahwa komitmen Disparbud Gowa dalam mengedukasi generasi digital tidak berhenti sampai di sini. Sukses membedah pemikiran Karaeng Patingalloang, rangkaian kajian sejarah ini dipastikan akan terus berlanjut secara masif.
Pada 9-10 Juni mendatang, Disparbud Gowa dijadwalkan akan menggelar kajian serupa dengan membedah sosok pahlawan lintas samudra, Syekh Yusuf Al-Makassari Tuanta Salamaka.
“Anak muda Gowa harus bangga dengan sejarahnya. Sebab bangsa yang besar, adalah bangsa yang algoritmanya tetap mengakar pada perjuangan para pahlawannya.(*)















