INFOKINI.ID, MAKASSAR – Perum Bulog Kantor Wilayah Sulawesi Selatan dan Barat (Sulselbar) memastikan ketersediaan stok pangan pokok, khususnya beras dan minyak goreng tetap aman di tengah kenaikan harga sejumlah komoditas dalam beberapa pekan terakhir.
Pemimpin Perum Bulog Kanwil Sulselbar, Fahrurozi, mengatakan kenaikan harga yang terjadi masih dalam kategori wajar dan dipengaruhi oleh berakhirnya masa panen raya serta meningkatnya biaya logistik.
Menurutnya, pergerakan harga saat ini merupakan bagian dari mekanisme pasar yang dipengaruhi keseimbangan antara pasokan dan permintaan.
“Ketika puncak panen berakhir, pasokan di masyarakat mulai berkurang. Sementara permintaan terhadap komoditas pangan relatif tetap. Secara hukum ekonomi, kondisi ini akan memengaruhi pergerakan harga,” kata Fahrurozi, Kamis (18/6/2026).
Ia menjelaskan, sebagian besar petani di Sulawesi saat ini memasuki masa tanam kembali sehingga produksi hasil panen belum maksimal. Kondisi tersebut membuat pasokan beberapa komoditas di pasar mengalami penurunan sementara.
Fahrurozi memperkirakan panen raya musim kedua baru berlangsung pada pertengahan Juli hingga awal Agustus 2026. Sejumlah daerah seperti Kabupaten Gowa dan Maros diprediksi mulai memasuki masa panen pada awal Juli, meskipun jumlahnya masih terbatas.
“Panen yang sudah mulai terjadi masih di beberapa titik dan belum merata. Diperkirakan panen raya musim kedua akan dimulai pada pertengahan Juli hingga awal Agustus. Jika suplai kembali melimpah, harga akan berangsur stabil,” ujarnya.
Selain faktor pasokan, kata dia, Bulog juga mencermati dampak kenaikan biaya logistik terhadap harga pangan. Fahrurozi menyebut kenaikan harga energi global dan penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat ikut mendorong biaya distribusi berbagai komoditas.
Menurut dia, biaya transportasi antardaerah, operasional truk, hingga penggunaan kontainer mengalami peningkatan sehingga memengaruhi harga jual di tingkat konsumen.
“Adanya kenaikan harga minyak dunia dan pengaruh nilai tukar dolar menyebabkan biaya logistik meningkat. Pada akhirnya, hal tersebut berdampak terhadap harga beberapa komoditas yang mengalami kenaikan,” jelasnya.
Meski demikian, Bulog menilai kenaikan harga saat ini belum signifikan. Berdasarkan hasil pemantauan di lapangan, harga beras kemasan memang mengalami penyesuaian, namun masih berada dalam batas yang wajar.
“Kami memantau kenaikan harga ini baru terjadi dalam satu hingga dua pekan terakhir dan tidak terlalu signifikan,” ungkap Fahrurozi.
Intensifkan SPHP dan Gerakan Pangan Murah
Untuk menjaga stabilitas harga pangan, Bulog Sulselbar terus memperkuat Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Program tersebut dijalankan melalui berbagai jalur distribusi dengan melibatkan TNI, Polri, pemerintah daerah, serta Dinas Ketahanan Pangan melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah.
Bulog juga mengoptimalkan gudang-gudang yang dimiliki sebagai pusat distribusi sekaligus outlet penjualan beras medium agar masyarakat lebih mudah mendapatkan pangan dengan harga terjangkau.
“Kami memasifkan SPHP di semua lini agar masyarakat tetap mudah mendapatkan beras dengan harga yang terjangkau,” katanya.
Selain SPHP, Bulog masih menyalurkan bantuan pangan yang merupakan alokasi Februari-Maret 2026. Program tersebut ditargetkan rampung pada akhir Juni dan saat ini menyisakan sekitar 10 persen dari total penyaluran.
Pemerintah juga telah menyiapkan program bantuan pangan lanjutan yang akan berlangsung pada Juli hingga September 2026. Program tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat sekaligus menekan potensi gejolak harga di pasar.
“Ini merupakan bentuk dukungan pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi,” tandas Fahrurozi. (*)















