INFOKINI.ID, MAKASSAR – Mahasiswa Universitas Hasanuddin (Unhas) melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Perubahan Iklim dengan melakukan sosialisasi edukasi keterkaitan pengelolaan sampah dengan perubahan iklim.
Sosialisasi ditujukan kepada siswa SMP Negeri 31 Satap Lalang Tedong, Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan kepedulian siswa terhadap pentingnya pengelolaan sampah sebagai salah satu upaya dalam mengurangi dampak perubahan iklim, sekaligus menumbuhkan kebiasaan menjaga lingkungan sejak usia dini.
Seorang mahasiswa, Dina Wahyuni, menjelaskan bahwa dalam kegiatan ini siswa diberikan pemahaman mengenai jenis-jenis sampah, dampak pembuangan sampah sembarangan terhadap lingkungan, serta hubungan antara pengelolaan sampah dengan perubahan iklim.
Dijelaskan bahwa sampah organik yang menumpuk dan membusuk dapat menghasilkan gas metana, yaitu salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
“Selain itu, pembakaran sampah secara sembarangan juga dapat mencemari udara dan memperburuk kualitas lingkungan,” katanya.
Dalam sosialisasi edukasi ini, juga menekankan pentingnya pemanfaatan sampah melalui penerapan prinsip 4R (Reduce, Reuse, Recycle, dan Replace). Siswa diajak untuk reduce dengan mengurangi penggunaan barang sekali pakai, terutama plastik. Reuse dengan menggunakan kembali barang yang masih layak pakai, seperti botol minum dan wadah makanan. Recycle dengan mendaur ulang sampah menjadi barang yang bermanfaat. Replace dengan mengganti produk sekali pakai menggunakan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti membawa tumbler, tas belanja kain, dan kotak makan sendiri.
“Mengingat Desa Ampekale merupakan wilayah pesisir, sosialisasi juga memberikan penekanan khusus mengenai larangan membuang sampah ke sungai maupun laut,” tuturnya.
Sampah, khususnya sampah plastik, dapat terbawa arus hingga ke perairan dan terurai menjadi mikroplastik. Mikroplastik tersebut dapat tertelan oleh berbagai biota laut, seperti ikan, kerang, dan organisme lainnya.
“Apabila biota laut tersebut kemudian dikonsumsi manusia, maka mikroplastik juga berpotensi ikut masuk ke dalam tubuh manusia melalui rantai makanan,” jelasnya.
Oleh karena itu, katanya, menjaga kebersihan lingkungan pesisir tidak hanya bermanfaat bagi ekosistem laut, tetapi juga berperan dalam melindungi kesehatan masyarakat.
Kegiatan sosialisasi berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi menggunakan media presentasi, diskusi, sesi tanya jawab, serta permainan edukatif dan kuis untuk meningkatkan partisipasi siswa.
Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan berbagi pengalaman mengenai pengelolaan sampah di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Dia berharap, melalui kegiatan ini para siswa SMPN 31 Satap Lalang Tedong dapat menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat dengan menerapkan kebiasaan membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, serta menerapkan prinsip 4R dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah-langkah sederhana tersebut diharapkan mampu mendukung upaya pelestarian lingkungan, menjaga ekosistem pesisir Desa Ampekale, serta berkontribusi dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.















