INFOKINI.ID, MAKASSAR – Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) terus berkomitmen meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, termasuk deteksi dini dan penanganan Tuberkulosis (TBC).
Sampai saat ini, TBC masih menjadi salah satu tantangan kesehatan masyarakat, termasuk di Kota Makassar yang memiliki tingkat mobilitas dan kepadatan penduduk relatif tinggi.
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bagi kontak serumah pun menjadi salah upaya yang dilakukan Dinkes Makassar untuk memutus rantai penularan TBC di Kota Makassar
Pada kegiatan launching Gerakan Serentak Tracing TBC yang Terintegrasi dengan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas Antang, Selasa (11/8/2026), Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nur Saidah Sirajuddin, mengatakan pihaknya memberi perhatian serius pada TPT, karena kontak serumah merupakan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar TBC dari anggota keluarga yang telah terdiagnosis.
Untuk mengukur efektivitas strategi penanggulangan TBC, kata dia, Dinkes Makassar secara berkala melakukan pencatatan dan evaluasi terhadap sejumlah indikator utama.
Ia menyampaikan bahwa pada 2026, target penemuan terduga TBC ditetapkan sebanyak 48.763 orang. Hingga evaluasi berjalan, jumlah yang berhasil ditemukan mencapai 27.851 orang atau 57,11 persen.
Capaian tersebut, kata dia, masuk dalam kategori cukup. Artinya, upaya penemuan kasus secara aktif maupun pasif sudah berjalan, namun masih terdapat sekitar 42,89 persen target terduga TBC yang belum tersaring melalui sistem skrining kesehatan.
“Capaian 57,11 persen menunjukkan bahwa upaya penemuan aktif atau active case finding maupun pasif sudah berjalan,” kata dr. Nur Saidah.
“Namun, masih terdapat sekitar 42,89 persen terduga tuberkulosis yang belum tersaring di dalam sistem skrining kesehatan,” tambahnya.
Kondisi tersebut, kata dia, menjadi salah satu alasan Pemkot Makassar terus memperluas tracing hingga ke tingkat masyarakat.
Sementara untuk kasus TBC yang terkonfirmasi, target penemuan pada 2026 mencapai 9.030 kasus. Realisasi yang telah tercatat sebanyak 5.556 kasus atau 61,53 persen. Capaian tersebut juga masih berada dalam kategori cukup.
Menurut dr. Nur Saidah, angka tersebut menunjukkan masih terdapat kasus yang perlu ditemukan, dikonfirmasi, dan dilaporkan melalui sistem pelayanan kesehatan.
“Karena itu, penguatan skrining dan penelusuran kontak menjadi bagian penting untuk mempercepat penemuan kasus sekaligus mencegah terjadinya penularan lebih luas,” ujarnya.
Di sisi pengobatan, Dinkes Makassar mencatat capaian yang relatif lebih baik. Dari pasien yang terdata dalam program pengobatan, sebanyak 4.578 pasien atau 82,40 persen berhasil menyelesaikan pengobatan secara adekuat.
dr. Nur Saidah menyebut, capaian tersebut menunjukkan mutu layanan klinis dan kepatuhan pasien menjalani pengobatan relatif baik, meskipun masih berada di bawah standar nasional yang ditargetkan minimal 90 persen.
Ia menambahkan, pengobatan ini gratis dan indikator untuk mencerminkan mutu layanan klinis serta kepatuhan berobat itu relatif baik, mendekati standar nasional lebih atau sama dengan 90 persen.
Namun, masih terdapat sekitar 17,6 persen atau 978 pasien yang berisiko mengalami putus obat, retensi dalam pengobatan, maupun kematian.
“Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian melalui penguatan pendampingan selama masa pengobatan,” imbuh kadis Kesehatan.
Dari seluruh indikator yang dievaluasi, lanjut dr. Nur Saidah, pemberian TPT kepada kontak serumah menjadi persoalan yang paling membutuhkan perhatian.
Dari target 72.240 kontak serumah, baru 516 orang yang mendapatkan terapi pencegahan atau sekitar 0,71 persen.
“Ini yang perlu perhatian kita semua terkait dengan terapi pencegahan tuberkulosis,” ucapnya.
Menurutnya, TPT penting sebagai bagian dari upaya mencegah orang yang telah terpapar berkembang menjadi kasus TBC aktif.
Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, Dinkes Makassar akan memperkuat investigasi kontak di seluruh Puskesmas.
Strategi tersebut tidak hanya mengandalkan tenaga kesehatan, tetapi juga melibatkan kader kesehatan, komunitas, fasilitas pelayanan kesehatan swasta, klinik, hingga rumah sakit.
“Sinergitaselakukan perombakan strategi penelusuran kontak serumah di seluruh puskesmas dengan melibatkan kader kesehatan, komunitas serta fasilitas pelayanan kesehatan swasta, klinik dan rumah sakit,” terangnya.
Selain memperluas penelusuran, edukasi kepada keluarga pasien juga akan diperkuat. Hal tersebut dilakukan untuk mengatasi masih adanya penolakan terhadap pemberian TPT.
Menurutnya, keluarga perlu memahami bahwa terapi pencegahan merupakan bagian penting dalam memutus mata rantai penularan TBC, bukan sesuatu yang perlu ditakuti.
Dinkes Makassar juga akan memperkuat skrining aktif di sejumlah lokasi dan kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi.
Skrining akan diarahkan pada kawasan dengan kepadatan penduduk tinggi, tempat kerja, rumah tahanan atau lembaga pemasyarakatan, serta kelompok rentan seperti lansia dan masyarakat dengan penyakit penyerta tertentu.
Penguatan skrining juga akan dilakukan terhadap kelompok dengan kondisi yang dapat meningkatkan risiko TBC, termasuk penyandang diabetes melitus dan kelompok dengan HIV.
“Langkah ini, kita harapkan dapat memperluas jangkauan penemuan kasus sehingga semakin banyak kasus dapat ditemukan dan ditangani lebih awal,” tuturnya.
Selain penemuan kasus, Dinkes Makassar juga akan memperkuat retensi pengobatan agar pasien menyelesaikan terapi sesuai ketentuan.
Salah satunya dengan meningkatkan peran Pengawas Menelan Obat (PMO) serta memanfaatkan teknologi komunikasi, termasuk pengawasan berbasis aplikasi WhatsApp.
Strategi tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan kepatuhan pasien sekaligus mendorong capaian keberhasilan pengobatan dari 82,40 persen menuju target nasional minimal 90 persen.
“Peningkatan retensi pengobatan dilakukan dengan meningkatkan peran pengawas menelan obat atau PMO dan memanfaatkan teknologi seperti pengawasan berbasis aplikasi WhatsApp,” pungkasnya. (*)















