Kisah Inspiratif Mahasiswa UIN Alauddin Makassar, Sukses Jadi Kreator Konten Humor hingga Gaet 30 Brand

M. Rasha Asahi R bersama para mahasiswa Kelopok Tiga jurusan Ilmu Komunikasi UINAM yang terdiri dari Faikatul Amar, Zulfiah Qadri, Faris Ahmad Rizal , dan Mutiah Azzahra.(Foto: ist)

INFOKINI.ID, MAKASSAR– Media sosial saat ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah pertukaran informasi, melainkan menjelma menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengekspresikan diri sekaligus membangun identitas personal. Hal tersebut tercermin dari perjalanan kreatif M. Rasya Asahi R atau yang akrab disapa Aca, mahasiswa Ilmu Komunikasi UIN Alauddin Makassar yang sukses mencuri perhatian publik lewat konten-konten humor keseharian.

Aca dikenal luas berkat karya-karyanya yang sangat dekat dan relate dengan pengalaman hidup sehari-hari audiens. Dalam proses kreatifnya, pemuda ini mengaku bahwa ide-ide segar tidak selalu lahir dari perencanaan yang kaku, melainkan sering kali bermula dari keresahan pribadi maupun momen spontan di sekitarnya.

PDAM

“Ide biasanya muncul dari kejadian atau momen yang ada di sekitar. Setelah itu kami brainstorming bagaimana membuatnya menjadi konten yang lucu dan relate,” ujar Aca saat membagikan proses kreatifnya.

Foto: ist

Dalam memproduksi konten, Aca tidak berjalan sendiri. Ia didampingi oleh rekan kolaborasinya, Alvin, yang memiliki latar belakang keahlian di bidang teknik informatika dan desain. Kolaborasi informal dan penuh canda ini menjadi kunci konsistensi mereka dalam meracik video yang menghibur.

Tidak hanya fokus memproduksi tontonan kreatif, perjalanan Aca di dunia digital juga membuka pintu profesionalisme yang luas. Tercatat, sudah ada sekitar 30 brand ternama, termasuk Grab dan Master Bull, yang mempercayakan produknya untuk dipromosikan melalui kanal media sosial miliknya.

Menghadapi dinamika dunia maya yang kerap diwarnai komentar negatif, Aca memilih bersikap selektif. Ia tidak merasa perlu menanggapi setiap kritik pedas, kecuali jika komentar tersebut memang substansial dan membangun.

“Kalau dianggap tidak penting atau tidak terlalu mengganggu, komentar cenderung diabaikan,” pungkasnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *