Mengenal Accera Kalompoang, Upacara Adat di Balla Lompoa yang Punya Makna Budaya, Sejarah, Religi dan Simbolik

Prosesi adat Accera Kalompoang di Musuem Balla Lompoa Kabupaten Gowa yang digelar Keluarga Kerajaan Gowa, kemarin. (Foto: Dok. Humas Gowa)

INFOKINI.ID, GOWA – Accera Kalompoang merupakan tradisi adat masyarakat Gowa di Sulawesi Selatan yang berkaitan dengan pemeliharaan dan penghormatan terhadap benda-benda pusaka kerajaan.

Tradisi ini dilaksanakan secara turun-temurun oleh keturunan kesultanan Gowa dan masyarakat setempat sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan sejarah serta simbol legitimasi kekuasaan kerajaan.

Accera Kalompoang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 10 Oktober 2018. Upacara ini dipandang memiliki makna budaya, sejarah, religius, dan simbolik oleh masyarakat Gowa.

Tradisi ini dilaksanakan di Balla’ Lompoa, rumah adat yang dahulu berfungsi sebagai Istana Kerajaan Gowa, dan saat ini dijadikan sebagai museum sekaligus pusat pelestarian sejarah kerajaan.

Balla Lompoa menjadi tempat penyimpanan berbagai pusaka kerajaan yang dianggap memiliki nilai historis dan simbolis bagi masyarakat Gowa.

Upacara Accera Kalompoang ini biasanya dilaksanakan setiap tahun pada bulan Zulhijah, bertepatan dengan Hari Raya Iduladha, yang menunjukkan keterkaitan antara tradisi lokal dan nilai-nilai keagamaan.

Inti upacara disebut Allangiri Kalompoang, yaitu pembersihan dan penimbangan salokoa (mahkota) yang dibuat pada abad ke-14.

Pencucian benda-benda kerajaan tersebut dipimpin  oleh seorang Anrong Gurua (Guru Besar) dan diawali dengan pembacaan surat Al-Fatihah secara bersama-sama oleh para peserta upacara .

Adapun 15 benda pusaka yang dicuci dalam proses pencucian, yakni:

Pertama, Solokoa atau Mahkota terbuat dari emas murni, bertahtakan berlian dan permata sebanyak 250 butir. Ukuran garis tengah 30 centimeter dengan berat 1768 gram. Bentuknya menyerupai kerucut bunga teratai yang memiliki 5 helai kelopak daun.

Solokoa merupakan salah satu benda kebesaran Kerajaan Gowa yanh digunakan sebagai mahkota ketika pelantikan Raja. Solokoa ini berasal dari Raja Gowa 1 yakni Tumanurung pada Abad 14.

Kedua, Sudanga atau sebilah senjata sakti sejenis kalewang (sonri) dari besi putih, berhulu dan bersarung tanduk binatang berhias emas putih berlief geometris serta lilitan rotan. Adapun panjangnya berukuran 72 cm, lebar 4 cm dan 9 cm.

Sudanga ini milik Karaeng Bayo, suami Karaeng Tumanurunga Baieneyea ri Tamalatea sekitar abad XIII, kemudian menjadi atribut legitimasi saat prosesi penobatan raja berkuasa.

Ketiga, Ponto Janga-Jangaya atau gelang berbentuk Naga Melingkar sebanyak 4 buah, gelang ini berbentuk emas murni dengan berat
985,5 gram. Benda pusaka ini berasal dari Tumanurung.

Keempat, Kolara atau Rante Kalompoang berbahan emas murni. Terdapat 4 Kolara masing-masing panjangnya 51 cm, 55 cm, 55 cm, dan 49 cm dengan berat keseluruhan 2.182 gram.

Kelima, Tatarapang atau sejenis keris emas bertahta permata dan besi tua sebagai pelengkapnya. Dipakai dalam upacara kerajaan, keris ini sepanjang 51 cm, lebar 13 cm dan berat 9865 gram

Keenam, Lasipo atau parang dari besi tua. Senjata sakti ini dipergunakan raja sebagai petanda untuk mendatangi suatu tempat yang akan dikunjungi. Panjang parang ini sepanjang 62 cm, dan lebar 6 cm. Parang ini berasal dari Kerajaan Nunukan.

Ketujuh, Matatombak, matatombak yang dimiliki kerajaan ada tiga jenis. Pertama, Tama Dakkaya adalah matatombak yang dapat dipergunakan sebagai senjata sakti pada masa Kerajaan GGow. Panjangnya 49 cm dan lebar 3 cm. Kedua, matatombak jinga yang terbuat dari besi hitam, berfungsi sebagai senjata sakti Kerajaan Gowa. Panjangnya 45 cm dan 3 cm.

Kemudian matatombak Bu’le adalah anak sumpit dari besi hitam yang panjangnya 31 cm dan lebar 1,3 cm. Senjata ini berasal daridari Karaeng Loe di Bajeng.

Delapan, Berang Manurung atau sejenis kelewang/perang panjang. Parang ini bernama Manurung karena keberadaannya secara ghaib dibilik penyimpanan benda-benda pusaka.

Sembilan, Bangkarata’roe atau perhiasan berbentuk seperti antinganting-anting yang terbuat dari emas murni yang berjumlah 4 pasang. Anting-anting ini merupakan perlengkapan wanita dari pihak Raja pada kegiatan upacara.

Panjang anting-anting ini 62 cm, lebar 5 cm, berat 287 gram dan berasal dari Tumanurunga.

Sepuluh, Kancing Gaukang atau Kancing Bulaeng yang terbuat dari emas murni sebanyak 4 buah. Merupakan perlengkapan kerajaan dengan ukuran garis tengah 11,5 cm dan beratnya 277 gram. Pusaka ini berasal dari Tumanurunga.

Sebelas, Cincin Gaukang atau cincin dari emas murni dan perak sejenis batu. Benda ini merupakan alat perlengkapan perhiasan bagi wanita sejumlah 12 buah.

Duabelas, Tobo Kaluku atau Rante Manila sejenis emas sebagai perlengkapan pada upacara khusus kerajaan. Beratnya 270 gram, panjang 212 cm. Benda ini pemberian Kerajaan Sulu (Philipina Selatari sekitar Abad XVI).

Tigabelas, Pannyanggayya atau parang emasang terbuat dari rolan dan berambut ekor kuda. Panjangnya 22 cm yang dipakai pada upacara kerajaan khusus.

Empatbelas, Penning Emas atau medali emas yang terbuat dari emas murni. Merupakan pemberian Kerajaan Gowa 1.814, bentuknya bulat seberat 401 gram.

Limabelas, medali emas atau piagam penghargaan yang terbuat dari emas murni. Penghargaan ini merupakan pemberian Kerajaan Belanda sebagai tanda kehormatan. Rantainya 110 cm, dan medalinya bergaris tengah 7,5 cm dan beratnya 110 gram.

Khusus untuk senjata-senjata pusaka seperti keris, parang dan mata tombak, pencuciannya diperlakukan secara khusus,  yakni digosok dengan minyak wangi, rautan bambu, dan jeruk nipis. Pelaksanaan  upacara ini disaksikan oleh para keturunan Raja-raja Gowa, dan masayakat umum dengan syarat harus berpakaian adat Makassar pada saat acara.

Kemudian untuk penimbangan Salokoa, mahkota yang terbuaat dari emas murni bertabur berlian dan permata sebanyak 250 butir. dengan diameter mahkota 30 centimeter dan berat 1768 gram ini dilakukan dengan makna petunjuk bagi kehidupan mereka di masa yang akan datang. Jika timbangan mahkota tersebut berkurang, maka itu menjadi  pertanda akan terjadi (bala) bencana di negeri mereka. Sebaliknya, jika timbangan mahkota tersebut  bertambah, maka itu menjadi pertanda kemakmuran akan datang bagi masyarakat  Gowa.

Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Gowa, yang juga Kepala Museum Balla Lompoa, Ikbal Thiro, mengatakan proses pencucian benda-benda pusaka milik kerajaan setiap tahunnya dilaksanakan di Museum Balla Lompoa tentunya karena memiliki makna tersendiri.

“Utamanya yakni menjadi simbol perjuangan Kerajaan Gowa yang dapat menjadi sumber pengetahuan hingga hari ini kepada seluruh generasi. Musuem Balla Lompoa ini kan sebagai istana terakhir yang menjadi simbol perjuangan Kerajaan Gowa. Museum Balla Lompoa menjadi saksi sejarah dari perjuangan Kerajaan Gowa,” kata Ikbal.

“Masyarakat juga menjadikannya sebagai simbol persatuan dan perjuangan. Sehingga kegiatan ini menjadi daya tarik dan magnet yang sangat besar. Terlebih, setelah selama tiga tahun tidak dilaksanakan,”sambungnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *