Nenek Hj Jumaria Bawa Pulang Uang Rp 500 Ribu, Riyal Pemberian Dermawan Habis Membeli Oleh-Oleh

Nenek Hj Jumaria. (dok. kemenhaj sulsel)

INFOKINI.ID, JEDDAH – Cerita tentang Hj. Jumaria sepertinya belum berakhir. Saat hendak pulang ke tanah Air, sejumlah media yang tergabung dalam Media Centre Haji (MCH) di Arab Saudi sempat berbincang santai saat duduk menunggu penerbangan pulang di Bandara Internasional Jeddah, Rabu (11/6/2026).

Nama Nenek Jumaria belakangan menjadi perhatian publik dan viral selama penyelenggaraan haji 2026. Koper miliknya tidak berisi emas, sajadah mahal, atau barang-barang mewah khas oleh-oleh haji. Justru dirinya memperlihatkan sekoper penuh boneka, cokelat, pakaian anak-anak, dan kurma.

Semua disiapkannya untuk dibagikan kepada anak-anak tetangga dan para kemenakannya di kampung halamannya di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Padahal, perempuan yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani itu hidup sebatang kara. Ia tidak memiliki anak maupun cucu kandung. Namun, kasih sayangnya tak pernah kekurangan tujuan.

“Saya belikan cucu-cucuku. Boneka, kurma, cokelat, baju. Cucu kemenakan yang dekat rumahku. Nanti saya pulang, dia bilang, ‘Apa oleh-olehnya Nenek?’,” ujar Jumariah sambil tersenyum.

Nenek tergabung dalam Kloter 14 Debarkasi Makassar (UPG 14) itu dikenal sebagai sosok sederhana yang berangkat ke Tanah Suci dengan latar belakang kehidupan yang jauh dari kemewahan, ia menjadi icon Makkah Route (jalur fast track) haji 2026 oleh Arab Saudi yang pertama kali digunakan di Embarkasi Makassar.

Kesederhanaan itu kembali terlihat saat ditanya mengenai uang yang dimilikinya menjelang kepulangan ke Indonesia.

“Tidak ada uang Riyal. Ada uang Rp 500 ribu. Ini kusimpan untuk nanti sampai di sana jadi belanja,” katanya polos.

Selama berada di Makkah, beberapa dermawan yang tersentuh oleh kisah hidupnya memberikan sejumlah uang Riyal. Namun, uang tersebut tidak disimpan untuk dirinya sendiri. Seluruhnya habis dibelanjakan untuk membeli oleh-oleh.

Bukan untuk menunjukkan status sepulang haji, melainkan agar ia tidak pulang dengan tangan kosong kepada orang-orang yang selama ini mengisi hari-harinya.

Di dalam koper yang akan terbang bersamanya menuju Tanah Air, tersimpan boneka-boneka kecil, cokelat, kurma, dan pakaian sederhana. Barang-barang itu mungkin tidak bernilai mahal, tetapi menyimpan makna yang jauh lebih besar: kasih sayang.

“Saya simpan juga sebagian kecil cokelat untuk makan kalau malam,” tuturnya.

Bagi banyak orang, perjalanan haji mungkin berakhir saat pesawat mendarat di kampung halaman. Namun bagi Nenek Jumaria, perjalanan itu akan berlanjut ketika ia kembali menyapa anak-anak yang menunggu kedatangannya dengan penuh harap.

Sekoper yang ia bawa dari Jeddah mungkin tidak dipenuhi barang mewah. Tetapi di dalamnya tersimpan sesuatu yang jauh lebih bernilai—cinta yang tulus dari seorang nenek untuk keluarga dan lingkungan yang selama ini menjadi tempatnya berbagi hidup.

Bagi Jumaria, pulang ke kampung akan kembali menggenggam cangkul dan menggarap sawah kecilnya. Tapi telah membuatnya Bahagia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *