INFOKINI.ID, JAKARTA– Pemerintah Indonesia resmi meluncurkan program Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) secara massal di lembaga pemasyarakatan (lapas) dan rumah tahanan (rutan) seluruh Indonesia.
Langkah strategis ini menjadi bagian dari program prioritas (Quick Win) Presiden Republik Indonesia untuk menjamin hak layanan kesehatan bagi seluruh warga negara tanpa terkecuali. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menegaskan bahwa program ini ditargetkan menyasar sekitar 272 ribu warga binaan yang tersebar di 532 lapas dan rutan. “Pak Presiden berpesan agar program ini dilakukan kepada seluruh masyarakat, siapapun mereka, termasuk 272 ribu warga binaan di lebih dari 532 lapas dan rutan di seluruh Indonesia,” ujar Budi Gunadi Sadikin dalam keterangan resminya di Jakarta.
Lingkungan lapas yang padat menjadi salah satu fokus utama intervensi kesehatan ini. Data menunjukkan bahwa prevalensi kasus TB di dalam lapas mencapai 0,54%, angka yang signifikan lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata nasional sebesar 0,3%. Kondisi hunian yang rapat mempercepat risiko penularan antar penghuni.
Menkes mengingatkan bahwa deteksi dini menggunakan foto rontgen dada menjadi krusial untuk memutus rantai penularan.”TB ini menular dan jangan dianggap remeh. Tapi, pengobatannya ada. Kalau ketahuan sejak awal, diobati pasti sembuh dan tidak menularkan lagi. Inilah mengapa skrining TB kita lakukan di lapas agar angka kematian akibat TB bisa menurun tajam,” jelasnya.
Selain TB, program ini juga berfokus pada pencegahan penyakit tidak menular (PTM) mematikan seperti stroke dan penyakit jantung. Warga binaan serta petugas diimbau untuk menjaga tiga indikator kesehatan utama, yaitu tekanan darah di bawah 120/80 mmHg, kadar gula darah di bawah 200 mg/dl, kadar kolesterol di bawah 200 mg/dL.
Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto, menyatakan kesiapan penuh jajarannya untuk mendukung penuh kolaborasi bersama Kementerian Kesehatan ini. Terlebih, saat ini Indonesia masih menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus TB tertinggi di dunia setelah India.”Diperlukan langkah luar biasa, termasuk deteksi dini di lingkungan pemasyarakatan yang memiliki risiko penularan tinggi,” kata Agus.
Ia juga menambahkan bahwa koordinasi terkait pemenuhan alat kesehatan di klinik lapas dan rutan telah berjalan agar kualitas layanan kesehatan bagi warga binaan dapat meningkat secara merata.Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kemenkes, Andi Saguni, memaparkan total target nasional program ini mencapai 321.449 peserta (272.573 warga binaan dan 48.876 petugas) yang akan dilaksanakan secara bertahap hingga akhir tahun 2026.Sebagai langkah awal, peluncuran perdana dilakukan di Nusakambangan pada 29 Juni hingga 1 Juli 2026, menargetkan 5.768 orang. Paket Layanan Cek Kesehatan Gratis di Lapas meliputi pengukuran tinggi dan berat badan serta pemeriksaan tekanan darah, cek kadar gula darah dan kolesterol, tes cepat (Rapid Diagnostic Test/RDT) HIV Skrining TB lewat foto rontgen dada dan pengambilan sampel dahak bergejala.
Melalui pemeriksaan rutin ini, pemerintah berharap warga binaan dapat terus menjaga kondisi fisiknya selama masa pidana. Target akhirnya adalah saat mereka kembali ke masyarakat, mereka tetap produktif dan memiliki usia harapan hidup yang setara dengan rata-rata nasional, yakni 74 tahun.(*)















