Harga Kedelai Meroket Tembus Rp12 Ribu, Perajin Tahu Tempe Terpaksa Perkecil Ukuran Produk

INFOKINI.ID, JAKARTA–Gelombang tekanan ekonomi menghantam para perajin tahu dan tempe di tanah air. Di tengah meroketnya harga bahan baku hingga biaya operasional, para perajin terpaksa mengambil langkah dilematis dengan memperkecil ukuran produk demi menghindari kenaikan harga jual di pasaran.

Wakil Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Kusnoto, mengungkapkan bahwa harga kedelai impor yang sebelumnya berada di kisaran Rp 9.500 per kilogram (kg) kini melonjak tajam hingga menyentuh Rp 11.600 bahkan Rp 12.000 per kg di sejumlah daerah.

PDAM

Tekanan berat yang dirasakan perajin pada tahun 2026 ini dinilai jauh lebih kompleks dibandingkan tahun 2022 lalu. Pasalnya, lonjakan harga tidak hanya terjadi pada kedelai, melainkan merembet ke seluruh komponen biaya produksi seperti Bahan Bakar Minyak (BBM), harga plastik kemasan yang melompat dari Rp 25.000 menjadi Rp 45.000 per kg, lonjakan ongkos logistik, hingga naiknya harga minyak goreng Minyakita dari Rp 14.000 menjadi Rp 15.700 per liter, di tengah tren pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

“Kalau sekarang bukan hanya kedelai saja. Plastik naik, minyak goreng naik, daya beli juga seperti ini,” ujar Kusnoto kepada media, seperti dikutip dari lama detik.com, Minggu (4/10/2026)

Demi mempertahankan pelanggan di tengah lemahnya daya beli masyarakat, harga jual tahu dan tempe sengaja ditahan agar tidak naik. Sebagai gantinya, perajin menyiasati tingginya biaya produksi dengan memangkas ukuran produk. Sebagai contoh, satu batang tempe yang biasanya dipotong menjadi enam bagian kini diiris menjadi tujuh bagian dengan harga jual yang tetap sama.

Kendati siasat ini diterapkan, keuntungan bersih perajin kian menipis. Gakoptindo mencatat bahwa margin tipis ini membuat sebagian perajin mulai mengurangi volume produksi, bahkan sebagian kecil di antaranya sudah terpaksa menghentikan aktivitas produksinya alias gulung tikar.

Di sisi lain, para perajin sangat mengharapkan intervensi nyata dari pemerintah untuk memperkuat stabilisasi harga kedelai. Kusnoto menyoroti program subsidi kedelai sekitar 250 ribu ton senilai Rp 500 miliar yang dinilai belum dirasakan manfaatnya di tingkat perajin. Skema bantuan tersebut dinilai kurang efektif karena baru bisa diakses ketika harga kedelai menembus angka Rp 12.500 hingga Rp 13.000 per kg, sementara beban biaya produksi saat ini sudah sangat mencekik kelangsungan usaha kecil.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *