Lestarikan Adat dan Budaya, Kawasan Museum Balla Lompoa Jadi Lokasi Pernikahan Keluarga Kerajaan Gowa

Kawasan Museum Balla Lompoa (Foto: IST)

INFOKINI.ID, GOWA – Kawasan Museum Balla Lompoa, tidak hanya difungsikan sebagai tempat wisata sejarah, tetapi juga telah berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat sekaligus sebagai pusat pelestarian budaya.

Buktinya, kawasan Museum Balla Lompoa, khususnya di Istana Tamalate, menjadi tempat pelaksanaan pernikahan warga Kabupaten Gowa yang memiliki garis keturunan keluarga Kerajaan Gowa, yakni Andi Siti Alifa Syalda dan Muhammad Irwan, yang digelar dengan penuh nuansa adat dan budaya lokal.

Salah satu perwakilan keluarga pengantin, Ahmad Johan, mengungkapkan bahwa penggunaan kawasan tersebut bukanlah hal yang biasa, melainkan sebuah kehormatan yang diberikan dari pemerintah daerah (Pemkab Gowa), karena kedekatan keluarga dengan garis keturunan Kerajaan Gowa.

“Kami diberi izin. Mungkin karena masih termasuk keluarga dekat, jadi kami diizinkan menempati lokasi ini untuk melangsungkan resepsi pernikahan anak kami,” ujarnya, saat dikonfirmasi di Istana Tamalate, Sabtu (11/4/2026).

Sementara, terkait proses perizinan, ia menyebut bahwa pemerintah setempat, khususnya pihak yang mengelola sektor pariwisata dan budaya, memberikan respons yang positif. Menurutnya, izin diberikan dengan mempertimbangkan latar belakang keluarga yang masih memiliki garis keturunan kerajaan Gowa.

“Responnya bagus, ditanggapi secara positif. Karena banyak dari kami ini memang keturunan kerajaan, jadi diberikan izin. Mungkin kalau tidak sesuai aturan penggunaan tempat, pasti tidak akan diizinkan,” jelasnya.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa tidak semua acara pernikahan keluarga dilakukan di kawasan bersejarah tersebut. Dalam beberapa kesempatan, keluarga juga menggunakan gedung lain untuk menggelar acara serupa.

“Tidak selamanya di sini. Kadang kami juga menggunakan gedung seperti gedung Haji Bate. Ini kebetulan saja karena pengantin merupakan cucu dari raja terakhir yakni Andi Kumala Ijo,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan acara di Museum Balla Lompoa juga menjadi bagian dari upaya keluarga besar kerajaan untuk terus melestarikan adat dan budaya lokal.

“Ini juga untuk mengingatkan kembali kepada generasi muda, khususnya cucu-cucu keluarga kerajaan, agar tetap mengenal dan melestarikan budaya yang ada,” tuturnya

Penyelenggaraan pernikahan di kawasan Museum Balla Lompoa ini menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya dijaga sebagai simbol sejarah, tetapi juga tetap hidup dan terintegrasi dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini.

Sekadar diketahui, Museum Balla Lompoa saat ini bukan hanya menjadi tempat untuk menyimpan koleksi benda-benda bersejarah, tetapi juga menjadi simbol dari warisan budaya kerajaan Gowa yang kaya. Hal ini menjadi daya tarik yang kuat bagi para wisatawan, baik lokal maupun asing ata mancanegara.

Pemerintah Kabupten Gowa melalui Dinas Partiwisata dan Kebudayaan (Disparbud) pun menargetkan Museum Balla Lompoa dapat menjadi destinasi utama wisata sejarah di Sulsel yang tidak hanya menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga masyarakat lokal.

Salah satu upaya yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, yakni dengan melakuan promosi, baik melalui media sosial, kerja sama dengan agen wisata dan juga lembaga pendidikan.

“Kami berharap Museum Balla Lompoa dapat menjadi destinasi utama wisata sejarah di Sulawesi Selatan yang tidak hanya menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga masyarakat lokal,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Disparbud Gowa, Ikbal Thiro.

Ia juga menyampaikan bahwa ke depan, pemerintah Kabupaten Gowa berencana untuk terus mengembangkan sektor pariwisata di sekitar Museum Balla Lompoa, termasuk menambah fasilitas pendukung, seperti penginapan, transportasi, dan promosi wisata yang lebih gencar lagi.

Selain itu, pihak museum juga mengadakan berbagai kegiatan kebudayaan, seperti pertunjukan seni tradisional dan workshop pembuatan kerajinan tangan, yang turut menarik minat wisatawan.

Tak hanya itu, untuk menjaga eksistensi Museum Balla Lompoa sebagai Cagar Budaya, standar pelayanan dan kebersihan di Kawasan Museum harus menjadi perhatian. Disparbud Kabupaten Gowa pun berkomitmen untuk terus menjaga hal tersebut dengan baik.

“Dan tentunya promosi wisata yang lebih gencar lagi agar tempat-tempat wisata budaya di Gowa ini bisa diperkenalkan lebih luas lagi,” ujarnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *