INFOKINI.ID, GOWA – Konsep yang dihadirkan Kawasan Museum Balla Lompoa hari ini menambah kekaguman para pengunjung yang datang.
Hal ini diakui Salfitriani, Mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM), saat berkunjung langsung bersama rombongan dari mahasiswa Jurusan Statistik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNM.
Ia mengungkapkan kekagumannya terhadap Kawasan Museum Balla Lompoa yang dinilai memiliki daya tarik tersendiri, terutama dari segi arsitektur dan penataan lingkungan.
Salah satu kekagumannya terletak pada rumah adat yang berdiri megah di kawasan tersebut.
“Saya melihat bahwa rumah adat yang didalamnya adalah sebuah museum menghadirkan kesan estetika yang kuat sekaligus merepresentasikan kekayaan budaya lokal dari daerah ini,” katanya, saat diwawancarai, di sela-sela kunjungannya ke Museum Balla Lompoa.
Menurut Salfitriani, keindahan Kawasan Museum Balla Lompoa tidak hanya terletak pada bentuk bangunannya yang besar dan ikonik, tetapi juga pada lingkungan sekitarnya yang bersih, rapi, dan terawat dengan baik. Apalagi, adanya taman bunga dengan jenis bunga yang beragam.
Selain itu, kawasan yang luas ini dinilai sangat mendukung untuk berbagai kegiatan. Mulai dari kegiatan kebudayaan, kegiatan ke-mahasiswaan, kegiatan kemasyarakatan hingga kegiatan pernikahan. Hal ini tentunya semakin menguatkan keberadaan Kawasan Museum Balla Lompoa yang memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata budaya sekaligus lokasi penyelenggaraan berbagai kegiatan masyarakat.
“Tempatnya sangat indah dan tertata. Selain itu, areanya luas, jadi sangat cocok untuk kegiatan seperti pesta pernikahan atau acara budaya lainnya,” ujarnya.
Dalam pengalamannya mengunjungi pusat sejarah dan kebudayaan seperti Museum Benteng Rotterdam, dirinya menilai jika Benteng Rotterdam lebih menonjolkan karakter bangunan bersejarah yang identik dengan nuansa museum dan peninggalan masa lampau.
Kawasan Museum Balla Lompoa juga dianggap menghadirkan suasana yang berbeda. Meski tetap kental dengan nilai budaya, kawasan ini dinilai memiliki sentuhan yang lebih modern dalam konsep rumah adatnya.
“Kalau di Rotterdam lebih terasa seperti museum dengan bangunan prasejarahnya, sedangkan Museum Balla Lompoa lebih hidup sebagai rumah adat yang terasa modern tetapi tetap mempertahankan budaya,” tutur Salfitriani.
Sekadar diketahui, Pemerintah Kabupten Gowa melalui Dinas Partiwisata dan Kebudayaan (Disparbud) menargetkan Museum Balla Lompoa dapat menjadi destinasi utama wisata sejarah di Sulawesi Selatan, yang tidak hanya menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga masyarakat lokal.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk mewujudkan hal tersebut, yakni dengan melakuan promosi, baik melalui media sosial, kerja sama dengan agen wisata dan juga lembaga pendidikan.
“Kami berharap Museum Balla Lompoa dapat menjadi destinasi utama wisata sejarah di Sulawesi Selatan yang tidak hanya menarik wisatawan mancanegara, tetapi juga masyarakat lokal,” kataKepala Bidang Kebudayaan Disparbud Gowa, Ikbal Thiro, belum lama ini.
Ia juga menyampaikan bahwa ke depan, pemerintah Kabupaten Gowa berencana untuk terus mengembangkan sektor pariwisata di sekitar Museum Balla Lompoa, termasuk menambah fasilitas pendukung, seperti penginapan, transportasi, dan promosi wisata yang lebih gencar lagi.
Selain itu, pihak museum juga mengadakan berbagai kegiatan kebudayaan, seperti pertunjukan seni tradisional dan workshop pembuatan kerajinan tangan, yang turut menarik minat wisatawan.(*)















