INFOKINI.ID, MAKASSAR – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan akan berlangsung lebih kering dan cenderung lebih panjang. Hal ini dipicu oleh potensi fenomena El Nino, meski dengan intensitas lemah, yang diperkirakan mulai terasa pada pertengahan tahun.
BMKG memperkirakan musim kemarau di wilayah Sulawesi Selatan akan mulai pada dasarian kedua Mei 2026. Sedangkan kemarau di Sulsel mencapai puncaknya pada Agustus hingga Oktober.
Terkait potensi kemarau panjang ini, BPBD Makassar mempetakan sebanyak 6 kecamatan di Kota Makassar terancam dilanda bencana kekeringan.
“Dari enam itu adalah Tamalanrea, Biringkanaya, Manggala, Ujung Tanah, Tallo dan Panakkukang,” kata Kepala Pelaksana BPBD Makassar M Fadli Tahar di Balai Kota Makassar, Kamis (16/4/2026).
Menurutnya, kekeringan itu bisa memicu timbulnya bencana. Salah satunya mengakibatkan permasalahan krisis air bersih.
“Jadi ada tiga sebetulnya yang perlu kita antisipasi dalam bencana kekeringan ini. Ada tiga masalah yang akan timbul,” katanya.
Dijelaskannya, hal yang perlu diantisipasi menjelang musim kemarau itu adalah potensi krisis air bersih.
Kemudian, kekeringan juga berpotensi memicu kebakaran. Kondisi ini patut diwaspadai lantaran kebakaran juga kerap terjadi saat musim hujan.
“Kebakaran ini juga pada saat kekeringan itu bisa memicu, karena sedangkan musim hujan saja kebakaran, apalagi kalau kering lagi. Jadi ada pemadam kebakaran sebagai shelter di situ nanti,” ujar Fadli.
BPBD Makassar sudah membuat masterplan untuk mengantisipasi dampak bencana kekeringan. Seluruh stakeholder terkait dilibatkan untuk bekerja sama melakukan penanganan.
“Seperti kita ketahui sekarang ini ada informasi dari BMKG, akan ada bencana kekeringan, yaitu di bulan Mei dan puncaknya itu bulan Oktober,” jelasnya.
Fadli meminta masyarakat untuk tidak panik menghadapi potensi bencana kekeringan ini. Dia mengklaim Makassar sudah memiliki pengalaman menghadapi persoalan ini.
“Itu tahun 2023 kita sudah tetapkan juga tanggap darurat dan itu kita bisa atasi, dan 2024 status siaga tapi tidak sampai tanggap (darurat), 2025 tidak ada, dan 2026 ini kemungkinan ada, tetapi kami sudah punya antisipasi,” tambahnya.















