Bukan Cuma Penyakit Lansia! Kemenkes Ungkap Alasan Gen Z Rentan Osteoporosis Dini

Foto: ilustrasi

INFOKINI.ID, JAKARTA– Masalah kesehatan tulang selama ini identik sebagai penyakit yang hanya menyerang kelompok lanjut usia (lansia). Namun, fakta terbaru menunjukkan kondisi sebaliknya. Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) memberikan peringatan keras bahwa bahaya pengeroposan tulang atau osteoporosis kini nyata-nyata mengintai kelompok remaja dan dewasa muda, termasuk generasi Z (Gen Z).

Melalui publikasi resmi di portal Ayo Sehat (ayosehat.kemkes.go.id) dalam artikel berjudul “Osteoporosis pada Remaja” dan “Osteoporosis: Waktunya Bergerak”, Kemenkes membedah bagaimana fenomena mengkhawatirkan ini bisa terjadi di usia dini.

Fase Krusial yang Terancam Gaya Hidup
Masa remaja hingga usia 20-an awal sebenarnya merupakan periode emas di mana tubuh berada dalam fase puncak pembentukan massa tulang. Jika proses pembentukan ini terganggu, maka kekuatan jangka panjang tulang seseorang akan terancam secara permanen seumur hidup.

Kemenkes memetakan beberapa faktor utama yang memicu anak muda mengalami pengeroposan tulang dini (disebut juga Osteoporosis Sekunder atau Osteoporosis Idiopatik), yang mayoritas berakar dari kebiasaan sehari-hari:
• Tren Gaya Hidup Mager (Sedentary Lifestyle): Kebiasaan duduk terlalu lama di depan laptop, bermain gadget, dan jarang berolahraga menjadi pemicu utama. Padahal, tulang membutuhkan tekanan fisik dari aktivitas seperti latihan beban (resistance training) untuk merangsang sel-sel tulang agar memperkuat diri.
• Defisit Nutrisi & Diet Ekstrem: Kurangnya konsumsi makanan kaya kalsium dan vitamin D, sering kali dipicu oleh pola makan tidak seimbang demi mengejar standar penampilan tertentu.
• Ancaman Gangguan Makan (Eating Disorder): Maraknya kasus anoreksia atau bulimia di kalangan anak muda demi estetika tubuh berdampak fatal. Kondisi ini merampas nutrisi esensial tulang sekaligus mengacaukan hormon pelindung tulang seperti estrogen.
• Kebiasaan Merokok dan Alkohol: Kandungan nikotin pada rokok terbukti bersifat toksik langsung terhadap osteoblast (sel pembentuk tulang), sehingga membuat struktur tulang lebih cepat rapuh.

Waspada Silent Disease di Usia Muda

Osteoporosis kerap dijuluki sebagai silent disease karena sering kali tidak menunjukkan tanda-tanda atau gejala mencolok pada tahap awal. Namun, Kemenkes menegaskan, jika kondisi pengeroposan sudah memburuk di usia muda, tubuh akan mulai mengirimkan sinyal bahaya berupa:
1. Nyeri terus-menerus pada area punggung bawah, pinggang, lutut, hingga pergelangan dan telapak kaki.
2. Perubahan postur tubuh yang perlahan cenderung mulai membungkuk.
3. Risiko patah tulang (fraktur) yang sangat tinggi, bahkan hanya karena benturan atau cedera ringan yang seharusnya tidak fatal.

5 Langkah Nyata Kemenkes untuk Selamatkan Tulang Gen Z

Sebelum terlambat, Kemenkes menyarankan generasi muda untuk segera mengambil tindakan preventif lewat 5 langkah penting ini:
1. Penuhi Kalsium Harian: Targetkan asupan rata-rata 1.000 mg per hari melalui makanan tinggi kalsium seperti susu, tahu, tempe, keju, sarden, atau sayuran hijau (brokoli, kale, bayam).
2. Cukupi Vitamin D: Rutin berjemur di pagi hari selama 5–15 menit (2–3 kali seminggu) dan konsumsi ikan berlemak sehat (salmon, tuna) atau suplemen pendukung untuk mengoptimalkan penyerapan kalsium.
3. Perbanyak Konsumsi Sayur: Sayuran kaya Vitamin C sangat membantu merangsang produksi sel pembentuk tulang sekaligus melindunginya dari radikal bebas.
4. Aktif Bergerak dan Olahraga: Mulai rutin melakukan olahraga dengan intensitas ringan hingga sedang yang memberikan beban pada berat badan, seperti jalan sehat, senam, yoga, atau angkat beban.
5. Stop Rokok dan Alkohol: Hentikan kebiasaan buruk ini untuk mencegah kerusakan sistemik pada kepadatan tulang.

Jangan tunggu hingga usia senja untuk peduli. Kesehatan tulang masa depan ditentukan oleh bagaimana Gen Z memperlakukan tubuh mereka hari ini.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *