Lautan Patonro di Makassar: 7.092 Pelari Meriahkan HUT ke-81 TNI Bersama PT Vale

Foto: ist

INFOKINI.ID, MAKASSAR– Suasana Kota Makassar berubah menjadi lautan merah saat 7.092 pelari memadati gelaran TNI-81 Patonro Elite Run 2026. Ajang olahraga yang digelar dalam rangka memperingati HUT ke-81 TNI ini menjadi panggung unik yang memadukan semangat hidup sehat dengan pelestarian warisan budaya Bugis-Makassar.

Sepanjang rute lari, ribuan peserta tampak kompak mengenakan patonro, yang merupakan penutup kepala tradisional khas Bugis-Makassar. Penyelenggaraan event ini tak hanya mempertemukan masyarakat umum dan komunitas lari, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi strategis antara TNI, pemerintah daerah, hingga sektor industri. PT Vale Indonesia Tbk (PT Vale), bagian dari grup Mining Industry Indonesia (MIND ID), turut hadir memberikan dukungan penuh sekaligus menerjunkan tim pelarinya.

PDAM
Foto: ist

Direktur sekaligus Chief Project Officer PT Vale Indonesia Tbk, Muhammad Asril, mengungkapkan rasa kagumnya atas antusiasme peserta yang membludak. Didampingi Head of External Relations Regional and Growth PT Vale Indonesia, Endra Kusuma, Asril menegaskan keterlibatan perusahaan merupakan wujud nyata nilai kolaborasi dengan para pemangku kepentingan.

“Ini event yang luar biasa dengan 7.000 lebih peserta. Selain memberikan dukungan penyelenggaraan, kami juga menurunkan tim runner Vale, termasuk beberapa manajemen kunci. Momentum ini sekaligus memperkuat silaturahmi dengan Forkopimda Sulsel dan Sultra demi sinergi yang lebih baik ke depan,” ujar Asril saat menyampaikan ucapan Dirgahayu ke-81 untuk TNI.

Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Bangun Nawoko, mengaku tersentuh melihat ribuan pelari yang mengenakan patonro berwarna merah. Menurutnya, simbol budaya tersebut membawa makna mendalam bagi masyarakat Sulawesi Selatan.

“Merinding kita hari ini melihat peserta memerah dengan topi kebanggaan kita, patonro. Patonro Run kami dedikasikan untuk memuliakan budaya Bugis-Makassar. Simbol ini melambangkan ketegaklanjuran, kesetiaan, semangat pantang mundur, serta jiwa yang rela berkorban,” ungkap Mayjen Bangun yang juga ikut berlari di kategori 3 kilometer.

Ajang yang mencatatkan status sold out ini berhasil membuktikan bahwa kegiatan olahraga di ruang publik dapat menjadi sarana efektif untuk mengenalkan identitas budaya lokal ke lingkup yang lebih luas, sekaligus mempererat rasa kebersamaan antar-elemen bangsa.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *