INFOKINI.ID, MAKASSAR – Universitas Hasanuddin (Unhas) terus memperkuat peran sebagai perguruan tinggi yang hadir di tengah masyarakat melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Hasanuddin Program Kemitraan Masyarakat (PPMU-PK-M) Tahun 2026. Tim Pengabdian melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Kepulauan Selayar, Jumat (13/6).
Kegiatan yang mengusung tema “Pemberdayaan Kelompok Usaha Perikanan Pesisir Berbasis Ekosistem Mangrove Melalui Penguatan Nilai Tambah dan Tata Kelola Keuangan di Desa Bontosunggu, Kecamatan Bontoharu, Kabupaten Kepulauan Selayar” tersebut didanai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Hasanuddin sebagai bagian dari komitmen kampus dalam mendukung pembangunan ekonomi masyarakat berbasis potensi lokal dan keberlanjutan lingkungan.
Sebagai daerah kepulauan, Kabupaten Kepulauan Selayar memiliki potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang besar.
Namun demikian, sebagian besar pelaku usaha perikanan skala kecil masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari rendahnya nilai tambah produk, keterbatasan akses terhadap pengelolaan usaha yang modern, hingga lemahnya sistem pencatatan dan pengelolaan keuangan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang membatasi pertumbuhan usaha dan daya saing kelompok usaha masyarakat pesisir.
Berangkat dari kondisi tersebut, tim pengabdian Unhas merancang program yang tidak hanya berfokus pada aspek produksi, tetapi juga memperkuat kapasitas kelembagaan, literasi keuangan, dan kesadaran lingkungan masyarakat.
Pendekatan ini dinilai penting mengingat keberlanjutan usaha perikanan sangat bergantung pada kualitas ekosistem pesisir, khususnya kawasan Mangrove yang berfungsi sebagai habitat penting berbagai jenis ikan, udang, dan biota laut lainnya.
Kegiatan diikuti oleh 32 peserta dari empat kelompok usaha masyarakat. Turut hadir, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, Kepala Bidang Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Selayar, sejumlah staf Dinas Perikanan, serta Kepala Desa Bontosunggu.
Pelaksanaan program adalah para dosen yang melibatkan lima mahasiswa Unhas. Keterlibatan mahasiswa menjadi bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) untuk berinteraksi langsung dengan masyarakat dan memahami persoalan pembangunan di tingkat lokal.
Materi kegiatan difokuskan pada tiga aspek utama. Pertama, penguatan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya ekosistem Mangrove sebagai penopang produktivitas perikanan pesisir dan benteng alami terhadap abrasi pantai.
Kedua, peningkatan nilai tambah hasil perikanan melalui penguatan kelembagaan kelompok, pengembangan usaha, serta identifikasi peluang diversifikasi produk. Ketiga, peningkatan tata kelola keuangan melalui pembukuan sederhana, pencatatan arus kas, serta penghitungan biaya dan keuntungan usaha secara lebih sistematis.
Kegiatan berlangsung secara partisipatif dan interaktif. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang mereka hadapi dalam menjalankan usaha.
Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi dalam sesi tanya jawab, khususnya terkait strategi meningkatkan nilai jual produk perikanan, pengelolaan kelompok usaha, serta praktik pencatatan keuangan yang mudah diterapkan dalam kegiatan usaha sehari-hari.
Sebagai bagian dari evaluasi program, tim pengabdian memberikan pre-test dan post-test kepada seluruh peserta. Metode ini digunakan untuk mengukur tingkat peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti kegiatan.
Dengan demikian, program tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga memastikan adanya peningkatan kapasitas yang dapat diukur secara objektif.
Ketua tim pelaksana, Prof. Abd. Rasyid, menjelaskan bahwa penguatan kapasitas masyarakat pesisir perlu dilakukan secara terpadu dengan menghubungkan aspek lingkungan, ekonomi, dan tata kelola usaha.
“Keberadaan ekosistem Mangrove tidak hanya penting dari sisi konservasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi yang besar karena mendukung keberlanjutan sumber daya perikanan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat pesisir,” kata Prof. Abdul Rasyid.
Melalui program ini, Unhas berharap kelompok usaha perikanan di Desa Bontosunggu mampu mengembangkan usaha yang lebih produktif, memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, serta menerapkan tata kelola keuangan yang lebih baik.
Penguatan kapasitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat daya saing usaha perikanan lokal.















