SAPA DINKES Jadi Langkah Efektif Perkuat Kordinasi dan Pengawasan Layanann Kefarmasian di Makassar

Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nur Saidah Sirajuddin. (Foto: IST)

INFOKINI.ID, MAKASSAR – Inovasi SAPA DINKES (Supervisi Apotek Patuh dan Aman) yang dilahirkan jajaran Dinas Kesehatan Kota Makassar menjadi langkah yang efektif dalam memperkuat koordinasi dan monitoring terhadap pelayanan kefarmasian di Wilayah Kota Makassar.

Pasalnya, melalui inovasi ini informasi dapat tersampaikan secara merata. Selain itu, diskusi terkait kendala di lapangan juga dapat dilakukan dengan cepat, serta pemahaman apoteker terhadap standar pelayanan dan regulasi juga akan semakin meningkat.

PDAM

“Dengan adanya inovasi ini, pengawasan apotek dan toko obat secara daring melalui zoom merupakan langkah yang efektif dalam memperkuat koordinasi, pembinaan, dan monitoring terhadap pelayanan kefarmasian,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Nur Saidah Sirajuddin, Selasa (7/7/2026).

“Kami berharap, pengawasan secara daring ini menjadi pelengkap pengawasan lapangan, sehingga mutu pelayanan apotek, kepatuhan terhadap regulasi, dan keselamatan masyarakat dapat terus terjaga,” tuturnya.

dr. Nursaidah juga meyakini, pengawasan melalui zoom apotek dan toko obat dapat mengcover target seluruh apotek dan toko obat di wilayah Kota Makassar.

Sekadar diketahui, memastikan bahwa setiap obat yang beredar di wilayah Kota Makassar aman, legal, dan sesuai standar, merupakan tugas yang setiap hari diemban Dinas Kesehatan Kota Makassar. Tentunya hal itu bukan lah pekerjaan mudah.

Selama bertahun-tahun, pengawasan dilakukan dengan cara konvensional. Petugas harus turun langsung ke lapangan, berpindah dari satu lokasi ke lokasi lain, menyita waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit.

Di tengah tantangan tersebut, DInas Kesehatan Kota Makassar melahirkan sebuah terobosan yang mengubah cara pengawasan dilakukan. Namanya SAPA DINKES (Supervisi Apotek Patuh dan Aman).

Kepala Bidang Pelayanan dan Sumber Daya Kesehatan (PSDK) Dinas Kesehatan Kota Makassar, drg. Adi Novisa Perdana. menjelaskan bahwa melalui inovasi ini, pengawasan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada kunjungan fisik.

Teknologi digital kini menjadi mata dan telinga baru bagi pemerintah dalam memastikan setiap apotek menjalankan praktik kefarmasian yang sesuai aturan.

Dari sebuah ruang kerja, petugas dapat terhubung langsung dengan pengelola apotek melalui konferensi video. Dokumen perizinan dapat diperiksa secara daring.

Data ketersediaan obat dapat dipantau lebih cepat. Proses pembinaan yang sebelumnya membutuhkan perjalanan panjang kini bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit.

Transformasi ini bukan semata soal kecanggihan teknologi. Lebih dari itu, SAPA DINKES hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan layanan kesehatan yang semakin aman dan terpercaya.

Sebab dalam dunia kefarmasian, satu kelalaian kecil bisa berdampak besar. Obat tanpa izin edar, penyimpanan yang tidak sesuai standar, hingga penyalahgunaan obat tertentu dapat menjadi ancaman nyata bagi kesehatan publik. Karena itulah pengawasan menjadi benteng pertama yang harus diperkuat.

Melalui SAPA DINKES, Dinas Kesehatan dapat mendeteksi potensi pelanggaran lebih dini. Komunikasi dengan apotek berlangsung lebih intensif. Pembinaan dapat dilakukan secara berkala tanpa harus menunggu jadwal inspeksi lapangan. Hasilnya bukan hanya efisiensi kerja birokrasi, tetapi juga meningkatnya kepatuhan fasilitas kefarmasian terhadap regulasi yang berlaku.

Di sisi lain, masyarakat menjadi pihak yang paling diuntungkan. Mereka mungkin tidak melihat proses supervisi yang berlangsung melalui layar komputer. Mereka mungkin tidak mengetahui rapat-rapat virtual yang dilakukan petugas kesehatan dengan pengelola apotek.

Namun manfaatnya hadir setiap kali warga membeli obat dengan rasa percaya. Setiap kali pasien mendapatkan pelayanan yang sesuai standar. Dan setiap kali masyarakat memperoleh jaminan bahwa obat yang mereka konsumsi berasal dari fasilitas yang diawasi dengan baik.

SAPA DINKES juga menjadi gambaran bagaimana konsep smart city diterjemahkan ke dalam pelayanan kesehatan. Digitalisasi tidak lagi hanya identik dengan aplikasi atau layanan administrasi, tetapi juga menjadi alat untuk memperkuat perlindungan masyarakat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *