Gowa Jadi “Magnet” Hunian Sulsel: Surplus 14 Ribu Rumah di Tengah Kelangkaan Lahan Makassar

Kadis Perkimtan Kabupaten Gowa, Drs Abdullah Sirajuddin, M.Si.(foto:dok)

INFOKINI.ID, GOWA– Kabupaten Gowa kini bukan lagi sekadar penyangga Kota Makassar, melainkan telah bertransformasi menjadi episentrum baru pembangunan pemukiman di Sulawesi Selatan. Gowa sukses mencatatkan surplus pembangunan rumah subsidi di tengah krisis lahan yang menghimpit ibu kota provinsi. Kepala Dinas Perkimtan Gowa, Abdullah Siradjuddin, mengungkapkan fakta menarik mengenai dinamika properti di wilayahnya. Meski kebutuhan internal Gowa berada di angka 9.000 unit, namun pada tahun 2025 saja, Gowa mampu menghadirkan hingga 14.700 unit rumah.

Beralihnya minat masyarakat berburu hunian di Kabupaten Gowa, maka menjadikan Gowa sebagai “magnet” utama sektor properti di Sulawesi Selatan. Di saat Kota Makassar terus bergulat dengan keterbatasan lahan dan harga properti yang melambung, Gowa justru mencetak angka fantastis dengan ketersediaan unit rumah subsidi yang melimpah.

Abdullah juga mengungkapkan bahwa hingga tahun 2025, Gowa telah membangun sedikitnya 14.700 unit rumah subsidi. Angka ini jauh melampaui kebutuhan lokal (backlog) masyarakat Gowa yang berada di angka 9.000 unit. “Kita surplus atau over untuk kebutuhan lokal. Namun, tantangan sebenarnya adalah melayani 44.000 warga Makassar yang masih mencari rumah, ditambah 14.000 keluarga baru. Gowa adalah solusi tercepat karena menjadi daerah hinterland dengan akses masuk paling banyak,” jelas Abdullah Siradjuddin, saat dimintai keterangannya, Kamis (30/4/2026).

Abdullah juga menyebutkan bahwa salah satu titik yang paling diincar oleh pengembang dan masyarakat adalah Barombong. Menurut Abdullah, isu pembangunan jembatan penghubung oleh Pemerintah Kota Makassar telah memicu lonjakan harga tanah dan minat investasi di wilayah tersebut.
“Potensi di Barombong saja bisa mencapai 500 hektar. Jika satu hektar bisa dibangun 70 unit, maka ada potensi 350.000 unit hunian di masa depan. Ini adalah sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang sangat besar bagi Kabupaten Gowa,” tambahnya.

Selain Barombong, daerah favorit lainnya meliputi Pattallassang, Pallangga, dan Bontomarannu. Meski masif, pemerintah tetap melakukan penataan ketat melalui tim kolaborasi SKPD agar pembangunan perumahan tidak mengganggu Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2D). Terbukti, meski perumahan tumbuh subur, produksi pertanian Gowa tetap surplus. “Selain Barombong, wilayah Pattallassang, Pallangga, dan Bontomarannu juga tetap menjadi primadona bagi para pengembang (developer),” ujarnya.

Dongkrak Melalui Digitalisasi
Keberhasilan sektor perumahan ini berdampak langsung pada kantong pendapatan daerah. Transparansi data dan kemudahan izin menjadi kunci utama. Termasuk juga digitalisasi. “Kami menggunakan aplikasi SETARA (Sistem Ketetapan Retribusi Daerah) untuk mempermudah investasi. Semua proses PBG (Persetujuan Bangunan Gedung) dilakukan secepat dan seefektif mungkin. Hasilnya, target PAD kami naik terus, dari Rp3 miliar ke Rp4 miliar, dan di 2026 ini kami optimis naik Rp5 miliar lagi,” kata mantan Kabag Humas Setda Kabupaten Gowa ini.

Selain memaparkan pencapaian kinerja, Abdullah juga memberikan edukasi finansial bagi pasangan baru yang masih ragu membeli rumah. Mengingat harga rumah subsidi tahun 2026 yang diperkirakan naik dari harga sebelumnya Rp176 juta di tahun 2025. “Daripada membayar kontrakan Rp1.750.000 per bulan, jauh lebih bijak mencicil rumah subsidi yang biayanya hanya Rp1.000.000-an per bulan. Begitu cicilan selesai, rumah sudah menjadi hak milik sendiri. Ini hunian layak bagi masyarakat kita,” tutupnya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *