Fakultas Kedokteran Unhas Kini Memiliki Museum, Momentum Penting dalam Dies Natalis ke-70

INFOKINI.ID, MAKASSAR – Puncak peringatan Dies Natalis ke70 Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) berlangsung pada Minggu, 25 Januari 2026. Momentum ini diisi beragam aktivitas oleh sivitas akademika FK Unhas dan turut dihadiri oleh ribuan alumni dari berbagai daerah.

Salah satu agenda penting dalam momentum Dies Natalis FK kali ini adalah peresmian Museum Fakultas Kedokteran Unhas, atau Unhas Medical Museum. Ruangan yang terletak di Lantai 2 Fakultas Kedokteran ini menyajikan berbagai benda, kisah, dan dokumen penting yang menyimpan sejarah kelahiran dan perkembangan Fakultas Kedokteran Unhas.

FK Unhas secara resmi berdiri pada 28 Januari 1956. Langkah penting peresmian fakultas ini melalui proses panjang, diawali oleh keinginan masyarakat Makassar untuk memiliki Fakultas Kedokteran.

Tiga tahun sebelumnya, disepakati “Gentlement Agreement” antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (P dan K) dengan Yayasan Balai Perguruan Tinggi Sawerigading. Yayasan ini merupakan pengelola Universitas Sawerigading, yang tercatat sebagai perguruan tinggi pertama di Sulawesi Selatan, bahkan di Indonesia Timur.

Pada tahun 22 Oktober 1953, Pemerintah membentuk Panitia Persiapan Fakultas Kedokteran Makassar. Panitia ini diketuai oleh Syamsuddin Daeng Ngawing, dengan sekretaris Muhammad Rasyid Daeng Sirua. Tokoh-tokoh yang duduk sebagai anggota panitia ini antara lain J. E. Tatengkeng, Andi Patiwiri, dan Sampara Daeng Lili.

Dalam proses persiapan ini, Gubernur Sulawesi (Andi Pangerang Pettarani) dan Walikota Besar Makassar (Ahmad Dara Syahruddin) mengambil kebijakan strategis untuk menanggulangi kebutuhan-kebutuhan teknis pendirian fakultas ini, termasuk menyiapkan dana sebesar 1,5 juta rupiah dan membebaskan lahan rawa seluas 50 hektar di Baraya. Bangunan gedung Fakultas Kedokteran dirancang khusus oleh seorang arsitek Belanda Ir. J. Th. Dhroof.

Selama 70 tahun perkembangannya, ada banyak tonggak sejarah (milestone) yang telah dilewati. Misalnya, perpindahan dari kampus Baraya ke kampus Tamalanrea, adopsi kebijakan dalam sistem pendidikan kedokteran dan pendidikan spesialis, langkah awal menuju kemandirian dan internasionalisasi, serta pendirian Rumah Sakit Pendidikan.

Seluruh catatan sejarah ini dapat disimak lengkap di Unhas Medical Museum ini. Fasilitas ini merupakan yang pertama di Universitas Hasanuddin.

Dalam acara peresmian museum, Rektor Unhas, Prof. Dr. Ir. Jamaluddin Jompa, M.Sc, mengungkapkan apresiaisi yang tinggi atas perhatian dari pimpinan FK Unhas terhadap sejarah fakultas.

“Untuk memahami Unhas hari ini, kita tidak dapat melepaskan sejarah perjalanannya. Uniknya, sejarah Unhas itu berasal dari sejarah fakultas-fakultasnya. Fakultas Kedokteran, misalnya, menyimpan banyak catatan berharga tentang sejarah Unhas, karena fakultas ini sudah lebih dahulu ada sebelum Unhas secara resmi berdiri,” kata Prof. JJ.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Unhas, Prof. Haerani Rasyid menjelaskan bahwa inisiatif untuk membangun museum kedokteran di Unhas sudah lama, namun baru dapat diwujudkan sekarang. Dirinya terinspirasi dari kampus-kampus besar di dunia.

“Biasanya, koleksi museum fakultas kedokteran itu ada yang menampilkan sejarah fakultasnya, ada juga yang menayangkan koleksi anatomi, atau sejarah kedokteran secara umum. Di Unhas, kami coba menggabungkan koleksinya, sehingga dapat menjadi sumber edukasi,” kata Prof. Haerani.

Usai penandatanganan prasasti peresmian oleh Rektor Unhas, selanjutnya dilakukan kunjungan terhadap koleksi museum oleh jajaran pimpinan Unhas, Majelis Wali Amanat, dan Senat Akademik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *