INFOKINI.ID, MAKASSAR – Peristiwa langka gerhana bulan total yang bertepatan dengan 14 Ramadhan 1447 H, Selasa 3 Maret 2026 malam, sukses diamati dan diabadikan oleh Tim Observatorium Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar.
Meskipun sempat terkendala mendung tebal yang menyelimuti langit Kota Makassar pada fase awal gerhana total dimulai, tim observatorium berhasil menangkap momen puncak fenomena Blood Moon.
Sebagai satu-satunya observatorium di Sulawesi Selatan, Observatorium Unismuh Makassar telah mempersiapkan pengamatan sejak sore hari. Rangkaian pengamatan dilakukan bertepatan dengan waktu berbuka puasa hingga memasuki waktu Isya dan Tarawih.
Pengelola Observatorium sekaligus Ketua Tim Observasi Gerhana Bulan Unismuh Makassar, Hisbullah Salam, mengungkapkan bahwa langit Makassar sempat menunjukkan tantangan tersendiri.
“Pada fase gerhana total dimulai sekitar pukul 19.04 WITA, langit di area kampus tertutup mendung cukup tebal. Kami sempat khawatir tidak bisa mendapatkan visual yang optimal,” ujarnya.
Namun, berkat kesabaran dan kesiapan peralatan, tim observatorium terus melakukan pemantauan intensif. Saat celah awan terbuka, tim langsung bergerak cepat mengabadikan momen berharga tersebut.
“Alhamdulillah, menjelang puncak gerhana, langit sedikit membuka. Kami berhasil merekam fase Bulan memasuki bayangan umbra Bumi dengan cukup jelas, meskipun sesekali masih tertutup awan tipis,” tambahnya.
Pada puncak gerhana yang terjadi pukul 19.33 WITA, tim Observatorium Unismuh Makassar berhasil mengabadikan penampakan Bulan yang berwarna merah (Blood Moon) melalui teleskop beresolusi tinggi.
Visual hasil tangkapan teleskop tersebut langsung disiarkan melalui kanal media sosial resmi Unismuh Makassar dan ditayangkan pada layar lebar yang tersedia di area Masjid Subulussalam Al-Khoory.
Rangkaian Ibadah Berjalan Khidmat
Sementara tim observatorium berjuang menangkap citra gerhana, puluhan jamaah di Masjid Subulussalam Al-Khoory Unismuh Makassar mengikuti rangkaian ibadah dengan khusyuk. Setelah menunaikan Salat Isya berjamaah, jamaah melaksanakan Salat Gerhana (Khusuf) dua rakaat dengan empat kali rukuk dan dua kali sujud.
Khutbah Salat Gerhana disampaikan oleh Dr. KH. Abbas Baco Miro, Lc., M.A. yang mengingatkan bahwa gerhana adalah tanda kebesaran Allah, bukan pertanda mistis atau kaitannya dengan kematian seseorang.
“Saat gerhana, umat dianjurkan memperbanyak doa, istighfar, dan sedekah,” pesannya dalam khutbah.
Usai Salat Gerhana, jamaah melanjutkan Salat Tarawih berjamaah.















