Kloter UPG 43 Tutup Pelayanan Haji 2026, Menhaj: Masih Ada Pekerjaan Rumah yang Harus Diselesaikan

Kelompok Terbang (Kloter) terakhir UPG 43, mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pukul 17.05 WITA dengan membawa 242 jemaah. Dengan tibanya kloter tersebut, rangkaian operasional haji Indonesia tahun ini dinyatakan berakhir. (dok. kemenhaj sulsel)

INFOKINI.ID, MAKASSAR – Kelompok Terbang (Kloter) terakhir UPG 43, mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin Makassar pukul 17.05 WITA dengan membawa 242 jemaah. Dengan tibanya kloter tersebut, rangkaian operasional haji Indonesia tahun ini dinyatakan berakhir.

Menteri Haji dan Umrah Moch. Irfan Yusuf, secara resmi menutup operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi setelah seluruh jemaah haji Indonesia tiba kembali di Tanah Air, Rabu (1/7/2026).

PDAM

“Alhamdulillah, seluruh jemaah haji Indonesia telah kembali ke Tanah Air dengan selamat. Atas nama Kementerian Haji dan Umrah, saya menyatakan operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 Hijriah/2026 Masehi secara resmi telah berakhir,” ujar Menhaj di Surabaya.

Sepanjang operasional haji 2026, pemerintah memberangkatkan 527 kelompok terbang (kloter) yang mengangkut 202.636 jemaah haji reguler dari 16 embarkasi di seluruh Indonesia. Selain itu, Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK) juga memberangkatkan 16.585 jemaah haji khusus dan 1.016 petugas haji khusus.

Penyelenggaraan haji tahun ini juga diwarnai tantangan besar dalam melayani jemaah dengan karakteristik yang beragam, mulai dari 44.247 jemaah lanjut usia, 170.700 jemaah berisiko tinggi, 370 jemaah berkebutuhan khusus, hingga 275 pengguna kursi roda.

Seluruh layanan akomodasi, konsumsi, transportasi, pembinaan ibadah, hingga layanan kesehatan disiapkan untuk memastikan setiap jemaah dapat beribadah dengan aman, nyaman, dan khusyuk.

Selama operasional berlangsung, pemerintah mendistribusikan sekitar 24,18 juta boks makanan, mengoperasikan 15.212 bus antarkota perhajian dan 11.990 trip bus shalawat, serta menghadirkan layanan kesehatan berlapis melalui tenaga kesehatan di setiap kloter, klinik satelit, Klinik Kesehatan Haji Indonesia, hingga kerja sama dengan rumah sakit Arab Saudi.

Dalam aspek tata kelola, Kemenhaj juga menghadirkan sejumlah inovasi penting, di antaranya penerapan alokasi kuota provinsi yang lebih berkeadilan, penurunan biaya haji tanpa mengurangi kualitas layanan, penambahan embarkasi fast track, digitalisasi layanan, hingga penyelesaian lebih awal berbagai kontrak layanan di Arab Saudi.

Meski operasional telah berakhir, pemerintah memastikan pelayanan kepada jemaah belum berhenti. Saat ini masih terdapat 60 jemaah yang menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi.

Kementerian Haji dan Umrah akan terus melakukan pendampingan hingga seluruh jemaah dinyatakan laik terbang dan dapat dipulangkan ke Indonesia. Di saat yang sama, proses klaim asuransi bagi jemaah yang wafat juga terus dilakukan sesuai ketentuan.

Menhaj menegaskan bahwa berakhirnya operasional haji bukanlah akhir dari ikhtiar peningkatan pelayanan. Dalam waktu dekat, Kemenhaj akan melaksanakan evaluasi menyeluruh bersama seluruh pemangku kepentingan untuk menyempurnakan penyelenggaraan ibadah haji pada tahun-tahun mendatang.

“Kami mencatat masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, terutama terkait layanan di Mina dan penguatan implementasi istithaah kesehatan. Seluruh catatan tersebut akan menjadi fokus evaluasi agar penyelenggaraan haji ke depan semakin profesional, aman, nyaman, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah,” kata Menhaj.

Pada kesempatan tersebut, Menhaj juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia, DPR RI, Pemerintah Arab Saudi, kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, maskapai penerbangan, media massa, serta seluruh pemangku kepentingan yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada seluruh petugas haji yang telah mengabdikan diri dengan penuh keikhlasan dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah, serta kepada seluruh jemaah haji Indonesia yang telah menjaga ketertiban, kesabaran, dan semangat saling membantu selama menjalankan ibadah di Tanah Suci.

“Semoga seluruh jemaah memperoleh predikat haji yang mabrur, menjadi pribadi yang saleh secara individu maupun sosial, serta menghadirkan kemaslahatan bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan negara,” tutup Menteri.

Berakhirnya operasional penyelenggaraan ibadah haji 1447 H/2026 M menjadi penanda dimulainya persiapan penyelenggaraan ibadah haji 1448 H/2027 M.

Dengan semangat perbaikan berkelanjutan, Kementerian Haji dan Umrah berkomitmen menghadirkan layanan haji yang semakin profesional, adaptif, dan berpusat pada kebutuhan jemaah.

Sementara Debarkasi Makassar resmi menutup operasional pemulangan jemaah haji musim 1447 H/2026 M dengan kedatangan Kloter 43 di Asrama Haji Sudiang, Rabu malam (1/7/2026).

Jemaah Kloter 43 berasal dari Kabupaten Wajo (111 orang), Gowa (46), Bulukumba (17), Sulawesi Tenggara (15), Maros (13), Pangkep (9), Soppeng (7), Tana Toraja (7), Pinrang (6), Takalar (5), Sulawesi Barat (4), serta masing-masing seorang ketua kloter, perawat, petugas haji daerah, dan petugas asal Kota Makassar.

Kloter pamungkas ini membawa sebanyak 244 jemaah, sekaligus menandai berakhirnya rangkaian proses pemulangan jemaah haji Embarkasi Makassar tahun ini.

Ketua Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Embarkasi/Debarkasi Makassar, H. Ikbal Ismail, mengungkapkan rasa syukur atas tuntasnya proses pemulangan jemaah haji yang berlangsung dengan lancar.

“Alhamdulillah, malam ini kami menerima kloter pamungkas, Kloter 43 Embarkasi Makassar sejumlah 244 jemaah. Dengan kedatangan kloter terakhir ini, kami telah menerima kembali sebanyak 16.685 jemaah haji,” ujar Ikbal Ismail.

Ia menjelaskan, pada musim haji tahun 2026, Embarkasi Makassar memberangkatkan sebanyak 16.728 jemaah haji. Hingga penutupan operasional debarkasi, sebanyak 16.685 jemaah telah kembali ke Tanah Air melalui Debarkasi Makassar.

Meski demikian, masih terdapat sembilan jemaah yang menjalani perawatan di Makkah dan Madinah, termasuk seorang jemaah dari Kloter 43.

“Masih ada sembilan jemaah yang dirawat di Makkah dan Madinah, termasuk dari Kloter 43. Insya Allah, bila kondisi kesehatannya sudah membaik dan dinyatakan layak terbang, mereka akan dipulangkan ke daerahnya masing-masing,” jelasnya.

PPIH Makassar memastikan terus berkoordinasi dengan petugas haji di Arab Saudi untuk memantau perkembangan kesehatan para jemaah yang masih menjalani perawatan hingga seluruhnya dapat kembali berkumpul bersama keluarga di Tanah Air.

Operasional Debarkasi Makassar tahun 2026 melayani pemulangan puluhan ribu jemaah haji dari delapan provinsi di kawasan timur Indonesia. Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *