Bendung Karet Dikempiskan BBWS Pompengan, Air Baku Gowa Anjlok 80 Persen: 20 Ribu Pelanggan Terdampak!

Sumur intake yang terpaksa harus disurutkan/pengeringan karena pemasangan alat ukur muka air oke BBWA Pompengan. (Foto:ist)

INFOKINI.ID, GOWA– Keputusan sepihak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pompengan Jeneberang mengempiskan bendung karet di dasar Sungai Jeneberang memicu krisis air bersih di Kabupaten Gowa. Pengerjaan teknis berupa pemasangan alat ukur Peyscal (pembacaan elevasi muka air) yang dilakukan tanpa koordinasi awal ini memaksa Perumda Air Minum Tirta Jeneberang mematikan mesin pompanya setelah pasokan air baku mendadak anjlok hingga 80 persen.

Secara teknis, Peyscal adalah alat ukur berskala yang dipasang secara vertikal di sungai, bendungan, atau saluran air untuk membaca elevasi (ketinggian) permukaan air secara manual.
Pemasangan alat ini dimaksudkan untuk mengetahui naik turunnya volume air di Sungai Jeneberang secara real-time, dan menghitung debit air melalui perhitungan lebar dan kecepatan arus sungai untuk mengetahui berapa liter air yang mengalir perdetik. Pemasangan Peyscal ini dilakukan di dasar atau dinding Sungai. Sehingga area pemasangan alat tersebut harus kering/surut untuk menancapkan/memaut plat skala tersebut dengan presisi tinggi.

PDAM

Tak hanya itu, pemasangan alat ini juga mengharuskan bendung karet dkempiskan agar air sungai surut dan dasar sungai bisa dikerjakan. Bendung karet penahan air diturunkan/dikempiskan sementara waktu. Dampaknya, air yang biasa tertahan oleh bendung karet menjadi meluncur bebas ke hilir, membuat tinggi muka air di area intake (penyedotan) dari pompa Instalasi Pengolahan Air (IPA) mendadak anjlok drastis.

Dampak keputusan di luar kendali Perumda Air Minum Gowa tersebut dipastikan merembet ke pelayanan masyarakat. Sedikitnya 20.000 Sambungan Rumah (SR) di wilayah dalam Kota Sungguminasa dan sekitarnya kini mengalami krisis pasokan air bersih.

Plt Direktur Utama Perumda Air Minum Tirta Jeneberang Kabupaten Gowa, Irianto Razak, mengungkapkan bahwa tindakan pengempisan bendung karet oleh pihak balai sejak Rabu 29 Juli 2026 kemarin membuat posisi sumur intake perumda air minum menggantung di atas permukaan air.

“Pihak balai memasang alat ukur Peyscal di dasar Sungai Jeneberang sejak kemarin, sehingga bendung karet dikempiskan terlebih dahulu. Ini sangat berdampak terhadap air baku yang turun 80 persen. Praktis pompa kami off-kan karena sumur intake dalam kondisi menggantung,” ujar Irianto, Kamis (30/7/2026). Kondisi mendadak ini memukul kapasitas produksi air bersih hingga turun separuh dari kondisi normal, dari 200 liter per detik menjadi hanya 100 liter per detik.

Satu unit instalasi di IPA Pandang-pandang mati total akibat posisi intake menggantung, sementara 2 unit instalasi lainnya mengalami penurunan produksi drastis hingga 70 persen. Demikian juga di Instalasi Kota Kecamatan (IKK) Barombong, produksi air ikut merosot tajam.

Menghadapi situasi darurat yang merugikan puluhan ribu pelanggan ini, pihak Perumda Tirta Jeneberang Gowa langsung bergerak cepat menyiagakan skema pasokan darurat di lapangan. “Untuk tetap memberikan pelayanan, kami standby-kan 3 unit mobil tangki guna mengantisipasi suplai air ke pelanggan. Kami juga sudah berkoordinasi dengan pihak Dam Bili-Bili agar bukaan air ditambah dulu sebagai upaya menormalkan kembali kondisi air baku,” tambahnya.

Sebagai solusi sementara untuk menyokong produksi, Perumda Tirta Jeneberang Gowa saat ini memaksimalkan pengambilan air baku dari Instalasi Kota Kecamatan (IKK) Borongloe.

Irianto juga mengatakan, telah melaporkan krisis air baku akibat pengerjaan proyek balai ini secara resmi kepada Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Gowa, mengingat besarnya dampak sosial yang ditanggung masyarakat dalam kota.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *