OPINI  

Viral Konten ‘Ibu Driver’ Ditegur MUI Sulsel: Edukatif Tapi Melanggar Etika dan Budaya Lokal

Prof. Dr. Hj. Siti Aisyah Kara.(Foto: ist)

INFOKINI.ID, MAKASSAR– Penggunaan bahasa kasar dan kata-kata kotor dalam ruang publik media sosial kembali menuai sorotan tajam dari kalangan akademisi dan tokoh agama. Ketua Bidang Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Selatan, Prof. Dr. Hj. Siti Aisyah Kara, memberikan kritik terbuka terhadap gaya penyampaian konten dari kreator TikTok populer berjuluk “Ibu Driver”.

Pernyataan tersebut disampaikan Prof. Siti Aisyah di Makassar, Sabtu (31/10/2026), merespons maraknya cara sang content creator menjawab pelbagai curahan hati maupun persoalan hidup yang dialami kaum perempuan.

PDAM

Secara prinsip, KPRK MUI Sulsel sejatinya memberi apresiasi tinggi atas niat awal pembuatan konten tersebut. Wadah yang membuka ruang aman bagi perempuan untuk membagikan dinamika masalah pribadi hingga relasi sosial dinilai sebagai langkah positif yang menguatkan sesama. Namun, cara penyampaian yang diwarnai perbendaharaan kata kasar dianggap telah menabrak batasan etika.

“Pada aspek itu, konten-konten itu tujuannya baik. Tetapi yang menjadi persoalan adalah pelanggaran etika terkait dengan bahasa-bahasa yang dipakai untuk memberikan pencerahan, menyindir, atau menguatkan perempuan-perempuan yang menyampaikan permasalahannya,” tegas Prof. Siti Aisyah.

Ia menyoroti bahwa penggunaan diksi kotor tidak bisa dibenarkan atas nama bentuk ekspresi spontanitas semata. Menurutnya, paparan bahasa verbal yang tidak santun berisiko memberi implikasi buruk terhadap pendidikan karakter generasi muda, khususnya remaja perempuan.

Lebih jauh, Prof. Siti Aisyah mengingatkan seluruh pembuat konten untuk senantiasa mengakar pada falsafah kebudayaan Sulawesi Selatan yang menjunjung tinggi nilai siri’ na pacce, yang sarat dengan nilai harkat harga diri, rasa malu, dan kepedulian yang dilandasi tata krama luhur serta ajaran agama.

Kendati melayangkan kritik tajam, MUI Sulsel tidak lantas menghakimi secara sepihak. Pihaknya mendorong adanya langkah edukasi dan dialog terbuka kepada sang kreator untuk mengklarifikasi latar belakang penggunaan bahasa tersebut, sekaligus mengajak para influencer untuk terus menebar kemanfaatan melalui gaya bahasa yang lebih santun dan bermartabat.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *