Digerebek! Lab Narkotika Terbesar di Aceh Produksi 1,2 Ton Sabu ‘Blue Ice’, Negara Hemat Rp120 Triliun

Foto: ist

INFOKINI.ID, PIDIE– Jaringan sindikat narkotika internasional kembali mendapat pukulan telak. Tim gabungan yang terdiri dari Bareskrim Polri, Badan Narkotika Nasional (BNN), dan Direktorat Jenderal Bea Cukai menggerebek laboratorium rahasia (clandestine lab) terbesar di Indonesia yang berlokasi di Pidie, Aceh. Pabrik haram ini tercatat mampu memproduksi hingga 1,2 ton narkotika jenis sabu kualitas terbaik atau yang dikenal sebagai blue ice.

Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto dalam konferensi pers di Pidie, Jumat (23/10/2026), mengungkapkan bahwa pengungkapan ini berawal dari penindakan di dua bangunan toko yang disulap secara rapi menjadi fasilitas produksi sabu. Dari lokasi tersebut, petugas berhasil mengamankan barang bukti berupa sekira 1 ton sabu cair metamfetamin beserta peralatan produksi massal, mulai dari 60 kaleng Titan Pro, kompor, tabung gas, hingga mesin cuci khusus untuk proses pengkristalan.

PDAM

“Proses yang mereka lakukan sangat sistematis, sangat terstruktur, dan menunjukkan bahwa jaringan ini dikendalikan oleh ahli kimia berpengalaman,” tegas Jenderal Suyudi. Berdasarkan hasil penyelidikan awal, laboratorium tersembunyi ini diduga kuat terafiliasi dengan sindikat narkoba lintas negara yang melibatkan jaringan asal China, Malaysia, dan Indonesia. Dalam operasi senyap ini, petugas turut meringkus 11 orang tersangka.

Keberhasilan pembongkaran pabrik narkotika raksasa ini dinilai berdampak masif bagi keselamatan generasi muda serta keuangan negara. Dengan asumsi 1 gram sabu dikonsumsi oleh lima orang, Jenderal Suyudi menyebut operasi gabungan ini sukses menyelamatkan hingga 6 juta anak bangsa dari jeratan barang haram.

Selain menyelamatkan jutaan jiwa, pengungkapan ini juga dikalkulasikan mampu menekan beban pengeluaran negara secara fantastis. Berdasarkan estimasi biaya rehabilitasi sebesar Rp 20 juta per orang untuk masa pemulihan selama enam bulan, negara berhasil dihindarkan dari potensi pengeluaran mencapai Rp 120 triliun.

“Angka-angka fantastis tersebut membuktikan bahwa ancaman narkotika sangatlah nyata, sehingga kolaborasi antara seluruh lapisan elemen masyarakat merupakan benteng pertahanan kita yang paling utama,” pungkas Suyudi, sekaligus mengapresiasi kerja sama terpadu antarlembaga dalam joint operation tersebut.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *