INFOKINI.ID, PANDEGLANG– Aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau yang disertai suara dentuman keras dan getaran sejak dini hari membuat warga di pesisir Kecamatan Carita, Kabupaten Pandeglang, Banten, dilanda kepanikan hingga sebagian memilih mengungsi.
Kondisi tersebut tidak terlepas dari bayang-bayang trauma mendalam masyarakat akibat tragedi tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 silam. Salah seorang warga Carita, Mohd Rizqi Baidullah, mengungkapkan bahwa getaran pada jendela dan dentuman keras sudah dirasakan sejak pukul 02.00 WIB.
“Masyarakat panik bahkan sebagian juga sudah ada yang pergi mengungsi. Sebagian tetangga udah ada yang mengungsi karena mungkin trauma akan kejadian tsunami Selat Sunda tahun 2018 lalu,” ujar Rizqi.
Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), erupsi Gunung Anak Krakatau di Lampung Selatan ini telah berlangsung sejak Jumat (4/9) malam pukul 23.07 WIB. Akibat lontaran material vulkanik, kamera pengawas (CCTV) di pos pengamatan dilaporkan rusak dan tidak beroperasi. Terakhir, CCTV sempat merekam fenomena lava fountain (lava air mancur) pada pukul 01.01 WIB.
Dari sisi kegempaan periode pengamatan pukul 00.00-06.00 WIB, tercatat satu kejadian letusan dengan amplitudo 70 milimeter berdurasi 21.600 detik. Saat ini, status Gunung Anak Krakatau berada di Level III (Siaga).
Menanggapi keresahan warga pesisir Banten dan Lampung, Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menegaskan bahwa potensi tsunami akibat erupsi kali ini relatif rendah.
Berdasarkan evaluasi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), pertumbuhan tubuh gunung pascaerupsi 2018 masih tergolong kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala pemicu tsunami.
Kendati demikian, Badan Geologi dan PVMBG merekomendasikan masyarakat, pengunjung, wisatawan, maupun pendaki untuk tidak mendekati kawasan kawah aktif dalam radius 3 kilometer. Warga juga diimbau agar tetap tenang, meningkatkan kewaspadaan, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta memantau perkembangan resmi hanya melalui instansi kebencanaan berwenang.
















