INFOKINI.ID – Para pengungsi yang tinggal di kamp-kamp yang padat di wilayah Gaza menghadapi masalah kesehatan berupa penyakit kulit, terutama saat cuaca panas. Hal ini pula yang menjadi perhatian serius petugas kesehatan di Gaza.
PBB telah memperingatkan bahwa krisis kesehatan masyarakat baru muncul di Gaza lantaran penyakit kulit menyebar di kamp-kamp yang padat di seluruh wilayah tersebut.
Dilansir Al Jazeera, Rabu (6/5/2026), muncul kekhawatiran situasi tersebut dapat segera memburuk selama musim panas.
Badan PBB untuk pengungsi Palestina (UNRWA) mengatakan jumlah infeksi kulit telah meningkat tiga kali lipat dalam beberapa bulan terakhir.
Situasi memburuk dengan adanya peningkatan suhu, kepadatan penduduk, dan sanitasi yang memburuk karena menjadi lahan subur bagi kudis, cacar air, dan penyakit lainnya, terutama di kalangan anak-anak.
Menjelang musim panas, keluarga dan petugas kesehatan sangat ingin menghindari terulangnya kejadian tahun 2024, ketika setidaknya 150.000 orang di Gaza menderita penyakit kulit. Sebagian besar karena kekurangan peralatan medis yang disebabkan oleh perang genosida Israel di wilayah tersebut.
Meskipun gencatan senjata telah diberlakukan di Jalur Gaza sejak Oktober 2025, Israel masih terus menyerang wilayah tersebut dan memberlakukan blokade yang sangat membatasi impor peralatan medis penting.
“Kami telah mencari di seluruh wilayah Jalur Gaza; wilayah itu penuh dengan pengungsi,” kata Fawzi al-Najjar, seorang pengungsi Palestina yang tinggal di salah satu kamp pengungsi Gaza.
“Ada satu juta orang yang berdesakan. Dan kami datang ke sini untuk tinggal di atas tempat pembuangan sampah. Ini masalah besar. Apa yang harus kami lakukan? Anjing, kucing, kutu, dan tikus… lihat tangan saya!” katanya.
Juru bicara PBB Stephane Dujarric mengatakan situasi di lokasi pengungsian terus memburuk.
“Tim di lapangan mengatakan bahwa hama dan infeksi kulit di antara penduduk Gaza masih meningkat,” katanya dalam konferensi pers bulan lalu.
“Pada bulan Maret, infeksi semacam itu meningkat lebih dari tiga kali lipat di lokasi pengungsian yang dikelola PBB,” tambahnya.















