INFOKINI.ID, YOGYAKARTA– Aktivitas Gunung Merapi kembali menunjukkan peningkatan drastis. Berdasarkan pemantauan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) selama 24 jam penuh pada Minggu (13/9/2026), tercatat terjadi 17 kali guguran lava pijar meluncur dari puncak gunung. Status Gunung Merapi kini bertahan di Level III (Siaga).
Tim penyusun laporan pemantauan BPPTKG, Suratno dan Yulianto, mengungkapkan bahwa guguran lava mengarah ke sektor barat daya dengan jarak jangkau maksimum hingga 2.000 meter (2 kilometer), melintasi alur Kali Sat, Kali Putih, dan Kali Krasak.
“Potensi bahaya dari guguran lava ini sangat tinggi. Data pemantauan memastikan suplai magma di dalam perut gunung masih terus berlangsung,” ungkap Yulianto dalam laporan resminya, Senin (14/9/2026).
Aktivitas kegempaan Merapi didominasi oleh gempa guguran yang mencapai 88 kali dengan amplitudo 2–41 mm. Selain itu, terdeteksi 59 kali gempa Hybrid/Fase Banyak serta 1 kali gempa Tektonik Jauh. Asap kawah berwarna putih berintensitas sedang hingga tinggi juga teramati membumbung hingga 200 meter di atas puncak.
BPPTKG memetakan radius kawasan rawan bencana yang wajib diwaspadai masyarakat:
-
Sektor Barat Daya: Sungai Boyong rawan hingga jarak 5 km. Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng rawan ancaman awan panas hingga radius 7 km.
-
Sektor Tenggara: Sungai Woro rawan hingga 3 km dan Sungai Gendol hingga radius 5 km.
-
Erupsi Eksplosif: Lontaran material vulkanik berpotensi menjangkau radius 3 km dari puncak.
Masyarakat imbau untuk tidak melakukan aktivitas apa pun di area potensi bahaya. Risiko banjir lahar dingin dan awan panas guguran meningkat drastis jika hujan deras melanda area puncak, di samping ancaman paparan abu vulkanik bagi kesehatan.(*)
















