Militer AS Resmi Tinggalkan Irak Setelah 2 Dekade, Iran Sambut Sebagai Kemenangan Bersejarah

Pasukan militer AS di Irak. (Foto: ist/DW News)

INFOKINI.ID, BAGHDAD– Pasukan militer Amerika Serikat (AS) secara resmi mengakhiri seluruh kehadirannya di Irak. Keputusan historis yang diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump ini sekaligus menutup babak dua dekade keterlibatan militer Washington di negeri seribu satu malam, yang langsung disambut sorak kemenangan oleh Iran.

Melalui akun X resmi Gedung Putih @WhiteHouse, Kamis (1/10/2026), Trump mengonfirmasi bahwa kontingen tentara AS terakhir telah meninggalkan tanah Irak. Ia menyebut pencapaian ini sebagai kemenangan bersama atas ISIS sekaligus mengapresiasi kepemimpinan baru di bawah Perdana Menteri Ali al-Zaidi.

PDAM

“Hari ini, dengan bangga saya umumkan bahwa pasukan Amerika terakhir sedang meninggalkan Irak! Ini adalah hari yang luar biasa bagi Amerika dan, yang terpenting, kita meninggalkan Irak dengan Perdana Menteri baru yang hebat,” ujar Trump, yang juga menyoroti kemenangan mutlak al-Zaidi dalam pemilu lalu.

Penarikan 2.500 prajurit terakhir ini merampungkan misi Operation Inherent Resolve yang telah berjalan selama 12 tahun terakhir guna membendung ekspansi ISIS. Pemerintah Irak menetapkan 1 Oktober 2026 sebagai lembaran baru kedaulatan nasional penuh, yang dirayakan secara besar-besaran melalui libur resmi nasional selama empat hari.

Di sisi lain, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyambut kepulangan total militer AS ini sebagai “kemenangan bersejarah” bagi poros perlawanan Islam. Teheran bahkan secara terbuka menyerukan agar seluruh sisa kekuatan militer asing angkat kaki sepenuhnya dari kawasan Timur Tengah.

Meski demikian, analis menilai bahwa hengkangnya AS tidak serta-merta membuat Irak sepenuhnya bersih dari kehadiran asing, mengingat Turki masih mempertahankan sejumlah pos militer di wilayah utara. Di sisi lain, PM Ali al-Zaidi tetap harus menempuh langkah diplomasi hati-hati guna menjaga keseimbangan hubungan aliansi dengan Washington di tengah pusaran geopolitik regional yang kian memanas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *