INFOKINI.ID, NEW DELHI– Pertemuan KTT BRICS ke-18 di Bharat Mandapam, New Delhi, India, resmi melahirkan Deklarasi New Delhi. Deklarasi yang diadopsi oleh negara-negara anggota BRICS termasuk Indonesia, Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Iran, Mesir, Etiopia, UEA, dan Arab Saudi ini membawa angin segar bagi penguatan kualitas sumber daya manusia (SDM) global melalui program beasiswa, inovasi, dan riset lintas negara.
Presiden Prabowo Subianto hadir langsung dalam penetapan poin-poin strategis tersebut. Salah satu sorotan utama Deklarasi New Delhi adalah dorongan masif pada sektor pendidikan tinggi, khususnya penguatan kolaborasi dalam bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM).
Secretary-Economic Relations Kementerian Luar Negeri India, Shri Sudhakar Dalela, menegaskan bahwa deklarasi ini menjadi pijakan kuat untuk memperluas jejaring inovasi, penelitian, hingga kewirausahaan pemuda.
“Di bawah pilar inovasi, terdapat inisiatif mempromosikan teknologi, penelitian, dan kewirausahaan, termasuk kerja sama pada infrastruktur publik digital serta Repositori Sains dan Penelitian BRICS,” ungkap Dalela.
-
Beasiswa & Mobilitas Akademik: Mendorong program pertukaran serta beasiswa jenjang sarjana dan pascasarjana, terutama di bidang STEM.
-
BRICS Network University: Mengoptimalkan jaringan kampus terkemuka antarnegara anggota untuk program bersama dan pertukaran pengetahuan interdisipliner.
-
Penguatan Pendidikan Anak Dini Usia (ECCE): Pertukaran praktik terbaik pada pengasuhan anak usia dini, literasi, serta numerasi dasar (FLN).
-
Pemanfaatan Teknologi & AI: Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dan teknologi baru dalam pendidikan secara aman, etis, dan berpusat pada manusia.
-
Kewirausahaan Pemuda: Mengakselerasi pelatihan keterampilan dan partisipasi sosial-budaya pemuda antarnegara BRICS.
Sebagai langkah konkret mendukung kolaborasi ini, Indonesia melalui Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) resmi membuka akses infrastruktur riset unggulan tanah air bagi komunitas ilmiah BRICS.
Kepala BRIN, Arif Satria, menyatakan bahwa kebijakan ini dirancang untuk mendorong lahirnya inovasi berbasis riset terapan yang berdampak langsung bagi masyarakat internasional.
“Indonesia membuka infrastruktur dan fasilitas riset unggulan BRIN untuk dimanfaatkan bersama oleh periset, perguruan tinggi, industri, serta periset dari negara-negara anggota BRICS. Kami ingin akses terhadap fasilitas riset ini semakin memperkuat mobilitas periset dan mendorong lahirnya kolaborasi riset yang konkret,” tegas Arif Satria.
Langkah strategis ini menegaskan posisi Indonesia bukan sekadar partisipan, melainkan motor penggerak dalam jejaring pendidikan, teknologi, dan riset BRICS ke depan.(*)
















