Pangkas 5 Rantai Perantara, Presiden Prabowo Sebut Koperasi Desa Bikin Harga Bahan Pokok Lebih Murah

Presiden Prabowo Subianto.(Foto: ist/dok. setneg)

INFOKINI.ID, JAKARTA– Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih akan membawa dampak nyata bagi efisiensi ekonomi masyarakat mulai tahun depan. Program strategis ini diproyeksikan mampu menekan harga bahan pokok secara signifikan lewat pemotongan rantai pasok distribusi pangan yang selama ini terlampau panjang.

Dalam acara Presiden Prabowo Menjawab pada Kamis (17/9/2026), Presiden mengungkapkan bahwa pemerintah saat ini terus mengejar kesiapan infrastruktur dan tata kelola koperasi desa. Hingga kini, tercatat sedikitnya 6.000 Koperasi Desa Merah Putih telah resmi beroperasi di berbagai wilayah Indonesia.

PDAM

Prabowo menyoroti persoalan klasik yang merugikan petani maupun konsumen, yaitu panjangnya rantai distribusi komoditas pangan dari desa ke kota. Selama ini, hasil panen petani harus melalui setidaknya lima tingkatan perantara sebelum sampai di tangan masyarakat.

“Pertama kali dalam sejarah Republik, kita punya rantai pasok sampai ke desa. Berarti kita bisa memotong banyak sekali biaya logistik, dan ini nanti efeknya akan terasa saya kira beberapa bulan sesudah, mungkin tahun 2027 atau 2028 akhir,” ujar Prabowo.

Panjangnya alur perantara tersebut memicu pembengkakan biaya margin logistik hingga 30–40 persen yang akhirnya dibebankan kepada konsumen. Secara akumulasi ekonomi, total margin yang terserap oleh para perantara tersebut diperkirakan mencapai angka fantastis, yakni Rp313 triliun.

Kondisi ini dinilai sangat merugikan. Di satu sisi, masyarakat harus membeli bahan pokok dengan harga tinggi, sementara di sisi lain petani tidak menikmati hasil yang sepadan karena margin terbesar justru mengalir ke tengkulak atau perantara.

Melalui skema Koperasi Desa Merah Putih, rantai distribusi dipangkas secara drastis. Koperasi desa akan menjadi satu-satunya entitas penyalur dari petani ke konsumen dengan margin yang ditetapkan amat rendah, yakni sekitar 5–10 persen saja. Langkah ini diperkirakan mampu menekan total biaya margin nasional hingga menjadi Rp50 triliun.

Dengan efisiensi skala besar ini, pemerintah optimistis harga pangan di tingkat konsumen akan jauh lebih terjangkau, sekaligus meningkatkan pendapatan bersih para petani di seluruh pelosok tanah air.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *