INFOKINI.ID, JAKARTA– Infeksi patogen tidak hanya menimbulkan penyakit jangka pendek, tetapi juga berkontribusi besar terhadap penyakit kronis mematikan. Studi global terbaru memperkirakan sekitar 2,3 juta kasus kanker baru di dunia pada tahun 2024 dipicu oleh infeksi bakteri dan virus.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal medis ternama The Lancet Oncology (2026) tersebut mengungkapkan bahwa infeksi menyumbang sekitar 12 persen dari seluruh total kasus kanker baru di tingkat global.
Peneliti mengidentifikasi hampir seluruh kasus kanker terkait infeksi tersebut didominasi oleh lima patogen utama, yaitu:
1.Helicobacter pylori (H. pylori)
Bakteri ini menjadi biang kerok utama yang menyumbang sekitar 4 persen atau 760 ribu kasus kanker baru pada 2024. Meski diperkirakan menginfeksi satu dari dua orang di dunia tanpa gejala, strain tertentu H. pylori dapat memicu tukak lambung hingga meningkatkan risiko kanker lambung.
2.Human Papillomavirus (HPV)
Menyumbang sekitar 4 persen atau 750 ribu kasus kanker baru pada 2024. Berbagai tipe HPV diketahui menjadi penyebab utama kanker serviks dan jenis kanker organ reproduksi lainnya.
3,Virus Hepatitis B (HBV)
Menyumbang sekitar 2 persen kasus kanker baru global, di mana infeksi kronis HBV berisiko tinggi berkembang menjadi kanker hati.
4.Virus Epstein-Barr (EBV)
Menyumbang sekitar 1 persen kasus kanker baru. Patogen yang telah menginfeksi sekitar 95 persen orang dewasa di dunia ini merupakan variabel baru yang dimasukkan dalam estimasi global seiring menguatnya bukti medis.
5.Virus Hepatitis C (HCV)
Berkontribusi di bawah 1 persen dari seluruh kasus kanker baru, dengan mayoritas dampak terjadi di negara-negara berkembang.
Studi ini juga membeberkan adanya ketimpangan kawasan yang signifikan. Sekitar tiga perempat (75 persen) kasus kanker terkait infeksi terjadi di negara berpendapatan rendah dan menengah, dengan konsentrasi tertinggi berada di Asia Timur, Asia Tenggara, dan Afrika Sub-Sahara. Asia Timur bahkan menyumbang proporsi terbesar, yakni 42 persen dari total kasus global, di mana H. pylori dan HBV menjadi penyebab utamanya.
Penulis utama studi, Harriet Rumgay, menegaskan pentingnya penguatan intervensi medis guna menekan angka kasus kanker terkait infeksi.
“Perkiraan terbaru kami menyoroti pentingnya pengendalian infeksi yang berkelanjutan dalam strategi pencegahan kanker global,” jelas Harriet Rumgay bersama tim penelitinya.
Para peneliti menekankan bahwa langkah pencegahan seperti perluasan cakupan vaksinasi HPV dan HBV, skrining dini, pengobatan yang tepat, hingga investasi riset untuk pembuatan vaksin H. pylori dan EBV menjadi kunci penting dalam menurunkan beban ekonomi dan sosial akibat penyakit kanker di masa depan.(*)
















