Mengupas Misteri Erupsi Anak Krakatau: Benarkah Bisa Bikin Gunung Makin Tinggi atau Meledak Sekuat 1883?

Foto: via REUTERS/CSU/CIRA & JMA/JAXA/Gunung Anak Krakatau dari Citra Satelit.

INFOKINI.ID, JAKARTA– Erupsi masif yang memuntahkan kolom abu vulkanik setinggi 6 hingga 15 kilometer dari Gunung Anak Krakatau sejak Jumat (4/9/2026) kembali memicu tanda tanya publik. Di balik ancaman material vulkaniknya, dinamika fisik gunung api bawah laut ini menyimpan siklus pertumbuhan dan keruntuhan yang unik.

Ahli vulkanologi, geomorfologi, dan mitigasi bencana gunung api, Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si, M.Sc., menjelaskan bahwa pertumbuhan tinggi dan volume gunung api sangat bergantung pada dinamika material lava. Material pijar yang keluar secara terus-menerus akan membentuk kubah lava (lava dome) yang memperluas dimensi gunung.

PDAM

Kendati demikian, proses pembesaran ini tidak berjalan konstan. Lereng serta kubah lava yang berada di titik tidak stabil sewaktu-waktu dapat mengalami keruntuhan massal—seperti insiden yang memicu tsunami Selat Sunda pada 2018 silam.

“Ketika pada suatu titik lereng itu tidak stabil, kubah lava itu tidak stabil, dia akan runtuh, yang menyebabkan tsunami di Selat Sunda tahun 2018 itu. Sehingga dia ketika runtuh, dia turun lagi, kemudian nanti tumbuh lagi. Jadi, memang sangat dinamis sekali sebenarnya,” terang Danang kepada detikEdu, Senin (7/9/2026).

Menjawab potensi letusan kolosal layaknya letusan purba Gunung Krakatau pada 1883 silam, Danang menilai skenario tersebut kecil kemungkinan terjadi dalam waktu dekat. Letusan mahadahsyat membutuhkan akumulasi energi serta rentang waktu pemulihan yang sangat panjang.

Meski demikian, pelepasan energi secara berkala lewat erupsi saat ini justru dinilai memiliki sisi positif. Proses ini mencegah terjadinya penyumbatan saluran magma yang berisiko memicu ledakan eksplosif jauh lebih besar di kemudian hari.

Di luar aspek geologis tubuh gunung, ancaman nyata yang harus segera diantisipasi saat ini adalah sebaran abu vulkanik yang telah mencapai berbagai wilayah, termasuk DKI Jakarta. Danang mengingatkan bahwa abu vulkanik kaya akan kandungan silika yang menjadi bahan dasar kaca.

“Dari abu vulkanik itu kan dampak kerusakannya juga sangat besar. Yang kita tahu bahwa abu vulkanik itu kan bahan dasar kaca, silika. Ini menjadi hal yang betul-betul perlu kita antisipasi, terutama dampak terhadap pernapasan, dampak terhadap mata, dampak juga terhadap penerbangan,” tegasnya.

Sebagai langkah mitigasi darurat, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika terpaksa beraktivitas di luar rumah, warga diwajibkan mengenakan masker pelindung pernapasan serta pelindung mata guna menghindari paparan partikel debu vulkanik yang berbahaya.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *