DAERAH  

4 Tahun Menghuni Bekas Kandang Sapi, Gubuk Seng Ismail Kini Disulap Jadi Istana Layak Huni Lewat TMMD ke-130

Penampakan gubuk Ismail sebelum dibedah (bawah) dan saat proses renovasi melalui program TMMD. (Foto: ist)

INFOKINI.ID, GOWA– Di atas sepetak tanah berukuran 7,5 x 15 meter di Dusun Bontomanai, Desa Kalebarembeng, Kecamatan Bontonompo, berdiri sebuah cerita tentang keteguhan hati di tengah keterbatasan. Ismail Daeng Lewa (23), seorang pemuda yang menggantungkan hidupnya sebagai petani serabutan, tak pernah berani bermimpi muluk. Bagi pria kelahiran Bontobaddo tahun 2003 ini, memiliki rumah yang kokoh dan sehat untuk mengayomi istri serta anak balita laki-lakinya adalah hal yang terlampau jauh dari jangkauan ekonominya.

Penghasilannya yang tak menentu dari menggarap sawah milik warga hanya cukup untuk menyambung hidup sehari-hari. Akibatnya, keluarga kecil ini harus merela tinggal di sebuah bangunan yang jauh dari kata layak.

PDAM

Bangunan tersebut sejatinya adalah bekas kandang sapi milik tokoh masyarakat setempat yang dahulu dirawat oleh almarhum ayah Ismail. Sepeninggal sang ayah, tempat penyimpanan ternak itu tak lagi difungsikan. Berbekal niat untuk membina rumah tangga, Ismail kemudian mengolah tempat tersebut seadanya agar bisa dijadikan tempat bernaung. Dinding-dindingnya hanya ditutupi lembaran seng bekas yang dipasang ala kadarnya yang penuh celah dan lubang di sana-sini.

Selama empat tahun menempati gubuk tersebut, penderitaan demi penderitaan harus dilalui Ismail sekeluarga. Saat musim hujan tiba, air menggenang di dalam rumah, udara dingin menembus celah seng, dan rintik air bocor menetes dari langit-langit. Sebaliknya, ketika musim kemarau menyengat seperti saat ini, hawa di dalam gubuk berubah menjadi sangat gerah dan pengap akibat seng yang menyerap panas matahari.

“Dulu di situ memang kandang sapi yang dipelihara almarhum ayah Ismail. Sepeninggal ayahnya, tempat itu beralih fungsi menjadi rumah tinggal Ismail bersama istrinya. Jadi memang program bedah Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) ini menjadi bantuan yang sangat luar biasa bagi Ismail agar bisa memiliki tempat tinggal yang humanis dan layak,” ujar Babinsa Desa Kalebarembeng, Serma Rifai, Minggu (25/10/2026).

Ismail bersama sang istri.(Foto: ist)

Kehadiran Program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 1409/Gowa yang resmi dibuka sejak 13 Oktober 2026 lalu akhirnya mengubah jalan hidup Ismail. Rumah gubuknya masuk dalam daftar prioritas dari tiga unit RTLH yang dibedah oleh Satgas TMMD di Kecamatan Bontonompo.

Sejak pengerjaan dimulai, raut haru tak pernah lepas dari wajah Ismail. Pada Minggu (25/10/2026), proses pemugaran terus dipacu oleh para prajurit TNI bersama warga setempat. Progres fisik bangunan tercatat telah menembus angka 26 persen, menandai selesainya tahap krusial pada struktur pondasi dan penataan pilar utama bangunan.

Ismail mengungkapkan rasa terima kasih yang mendalam kepada jajaran TNI yang telah membedah tempat tinggalnya.

“Tidak pernah ada dalam bayangan saya bisa mengubah rumah ini menjadi tempat yang layak untuk anak dan istri saya. Terima kasih banyak kepada Bapak-bapak TNI yang sudah peduli dan membantu keluarga kami,” tutur Ismail penuh haru.

Pengerjaan rumah Ismail dipastikan bakal terus digenjot hingga selesai secara utuh. Atap yang aman dari bocor serta dinding yang kokoh kelak tak sekadar menjadi pelindung dari cuaca ekstrem, melainkan menjadi fondasi awal bagi masa depan anak balitanya untuk tumbuh dalam lingkungan yang lebih sehat dan aman.

Sentuhan kemanunggalan TMMD ke-130 di Desa Kalebarembeng tak hanya mengukir senyum pada keluarga Ismail, tetapi juga meniupkan angin segar bagi sektor pertanian lokal. Pembangunan sarana fisik berupa jalan tani di kawasan tersebut terbukti menjadi solusi konkret atas keluhan masyarakat selama ini.

Tokoh pemuda yang juga anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) sekaligus anggota Kelompok Tani Tobang Dusun Bontomanai, Risal Daeng Rase, menguraikan betapa besarnya dampak ekonomi yang dirasakan para petani sejak jalan tani tersebut mulai terbentuk.

Progres pembangunan jalan tani yang telah mencapai 46 persen pada Minggu (25/10/2026).(Foto: ist)

“Ini adalah program yang sangat luar biasa. Terus terang, hadirnya TMMD ini memberikan manfaat yang sangat kompleks. Bagi kami para petani, keberadaan jalan tani ini sanggup memangkas biaya operasional angkut hasil panen hingga 50 persen. Kami tidak perlu lagi menyewa ojek angkut untuk mengeluarkan hasil bumi dari sawah,” tegas Risal saat dihubungi pada Minggu (25/10/2026).

Selain pembangunan fisik seperti jalan tani dan RTLH, Risal menambahkan bahwa warga desa juga mendapatkan pencerahan lewat berbagai kegiatan non-fisik berupa edukasi dan penyuluhan interaktif.

Namun, di atas seluruh pembangunan fisik tersebut, Risal paling terkesan dengan potret kemanunggalan dan kehangatan hubungan antara TNI dan rakyat di lapangan.

“Di siang hari saat Bapak-bapak TNI bekerja keras membangun desa kami, masyarakat dengan penuh kesadaran turun memberikan bantuan tenaga serta menyajikan makanan ala kadarnya. Lalu saat malam tiba, para prajurit dan warga duduk berkumpul bersama tanpa ada sekat sedikit pun. Keakraban seperti inilah yang membuat kami sangat tersentuh,” pungkas Risal.

TMMD ke-130 di Kabupaten Gowa sekali lagi menegaskan jati diri TNI, lahir dari rakyat, bekerja untuk rakyat, dan hadir sebagai penyambung asa bagi masyarakat pelosok desa.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *