Merajut Ketenangan Jiwa di Tengah Dinamika Modern: Ulasan Kajian “Andalan Mengaji” Bersama Ustadz Ahmad Zainuddin Albanjary

kajian tematik bertajuk "Beriman Kepada Takdir Menenangkan Hati".(Foto: ist)

INFOKINI.ID, MAKASSAR– Di tengah derasnya arus kehidupan modern yang kerap memicu kecemasan, keresahan, dan ketidakpastian masa depan, Majelis Ilmu “Andalan Mengaji” hadir membawa angin penyejuk rohani bagi masyarakat. Bertempat di Aula Asta Cita, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan, Kota Makassar, kajian tematik bertajuk “Beriman Kepada Takdir Menenangkan Hati” sukses digelar secara hibrid (offline dan via Zoom Meeting) pada Ahad (26/10/2026) malam. Kegiatan ini juga dihadiri Gubernur Sulsel, Andi Sudirman Sulaiman, serta sejumlah jajaran pejabat lingkup Pemprov Sulsel.

Menghadirkan penceramah ternama, Ustadz Ahmad Zainuddin Albanjary, Lc, kajian ini mengupas tuntas hakikat keimanan kepada qada dan qadar. Menurutnya, konsep takdir dalam Islam bukan sekadar doktrin teologis belaka, melainkan sebuah “terapi jiwa” paling mujarab untuk meraih kebahagiaan sejati dan ketenteraman batin.

PDAM

Menemukan Kebahagiaan dalam Pelukan Takdir
Poin fundamental yang ditegaskan sejak awal kajian adalah pentingnya kesadaran mutlak bahwa seluruh garis kehidupan di muka bumi telah berada dalam ketentuan Allah SWT. Ustadz Ahmad Zainuddin mengajak jemaah untuk melepaskan beban psikologis berupa penyesalan masa lalu serta ketakutan berlebih akan masa depan melalui rasa ridha (kerelaan) atas segala ketetapan-Nya.

Foto: ist

Ustadz merinci bahwa seorang mukmin yang beriman kepada takdir akan senantiasa bersyukur dan bahagia, bahkan di tengah hantaman musibah sekalipun, karena didasari oleh empat hal:
1.Anugerah Kalimat Istirja’: Petunjuk untuk mengucapkan Innalillahi wa inna ilaihi raji’un sebagai jangkar pengingat bahwa segala sesuatu adalah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
2.Pahala Sabar Tanpa Batas: Taufik untuk bersabar atas janji pahala tak terbatas dari Allah SWT.
3.Standar Ujian yang Jelas: Musibah duniawi (kehilangan harta atau rasa takut) tidak sampai mencederai agama. Musibah terbesar dalam hidup bukanlah kehilangan materi, melainkan musibah dalam urusan keimanan.
4.Perspektif Keringanan: Menyadari bahwa ujian yang menimpa diri sendiri sejatinya masih jauh lebih ringan ketimbang ujian yang dipikul orang lain.

“Musibah terbesar dalam hidup seorang hamba bukanlah kehilangan harta atau benda, melainkan musibah yang menimpa urusan agamanya. Selama iman masih menancap di dada, musibah dunia sejatinya relatif lebih ringan,” sebut Ustadz, memberikan penekanan materi kajiannya.

Buah Manis Keimanan Kepada Takdir
Keimanan yang utuh terhadap takdir melahirkan transformasi mental yang luar biasa. Dalam pemaparannya, Ustadz merangkum empat buah manis dari keimanan ini, yaitu
1.Bebas dari Penyesalan Kronis: Meyakini skenario Allah membuat seseorang tidak menghabiskan energi mentalnya untuk meratapi masa lalu (“andai saja dulu…”).
2.Mental Pemberani: Sadar bahwa hanya Allah yang mendatangkan manfaat. Saat berada di titik keputusasaan, harapan dialihkan sepenuhnya kepada Sang Pencipta, memegang prinsip bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan.
3.Perspektif yang Lurus: Memahami bahwa tidak semua hal yang diinginkan itu baik, dan apa yang dibenci bisa jadi justru membawa kebaikan (QS. Al-Baqarah: 216).
4.Fokus Beramal, Bukan Berkhayal: Cara terbaik menyikapi takdir adalah berikhtiar dan beramal saleh. Lembaran takdir di Lauhul Mahfuzh telah tertulis rapi, dan seseorang tidak akan mati sebelum rezekinya disempurnakan.

Keterbatasan Akal dan Evaluasi Diri
Kajian ini juga menggarisbawahi keterbatasan kapasitas akal manusia yang terikat ruang dan waktu, berbeda dengan ilmu Allah yang Maha luas dan tak terbatas. Oleh karena itu, sikap terbaik seorang Muslim adalah menaati syariat, berikhtiar maksimal, dan menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah SWT.

Foto: ist

Selain itu, Ustadz memberikan peringatan reflektif terkait stabilitas nikmat dalam kehidupan individu maupun keluarga (sakinah, mawaddah, warahmah). Ustadz mengingatkan firman Allah bahwa suatu nikmat tidak akan diubah atau dicabut kecuali karena ulah dan dosa manusia itu sendiri. Introspeksi diri (muhasabah) menjadi langkah utama ketika kenikmatan hidup terasa memudar. “Saat terjadi musibah, ingatlah dosa dan kesalahan apa yang telah engkau perbuat, karena kebanyakan seperti itulah yang terjadi. Musibah yang muncul karena dosa yang kita perbuat sehingga nikmat tersbeut dicabut oleh Allah,” jelasnya.

Penutup dan Sesi Tanya Jawab
Rangkaian acara diakhiri dengan sesi tanya jawab interaktif. Salah satu penekanan penting dalam sesi ini adalah bakti seorang anak kepada orang tua, di mana doa tulus yang dipanjatkan secara konsisten merupakan wujud ikhtiar spiritual yang amat mulia dan berdampak besar.

Melalui Kajian “Andalan Mengaji” ini, masyarakat Makassar kembali disadarkan bahwa ketenangan hidup bukanlah hasil dari ketiadaan masalah, melainkan buah dari kepasrahan total kepada takdir Allah SWT yang diiringi dengan ikhtiar terbaik serta husnuzhan (prasangka baik) kepada Sang Maha Pencipta.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *